Wartawan Bukittinggi Bentuk Serikat, Lawan Kerentanan di Industri Media dan Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja

Wartawan Bukittinggi Bentuk Serikat, Lawan Kerentanan di Industri Media dan Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja

Wartawan Bukittinggi Bentuk Serikat, Lawan Kerentanan di Industri Media dan Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja

Bukittinggi,Infosumbar24.com | Di tengah tekanan industri media yang kian tidak menentu, pekerja media di Bukittinggi dan Kabupaten Agam memilih bersatu.
Mereka resmi membentuk Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Penerbitan, Percetakan, dan Media Informasi (PC-FSP-PPMI) Bukittinggi.

Sebuah langkah yang tak lagi bisa ditunda di tengah lemahnya perlindungan terhadap insan pers.
Kesepakatan itu lahir dalam rapat pada Rabu (15/4/2026) di Rinaldi House Bukik Ambacang, yang mempertemukan berbagai organisasi profesi dari Bukittinggi Press Club (BPC), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Kolaborasi Jurnalis Independen (KJI), Sindikasi Media Indonesia (SMI), Asosiasi Pewarta Pers Indonesia (A-PPI), Wartawan Parlemen Bukittinggi (WPB) hingga unsur Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI).
Koordinator pembentukan, Wahyu Sikumbang menyebut pembentukan serikat ini sebagai respons atas realitas yang selama ini kerap diabaikan.
“Pekerja media yang bekerja tanpa kepastian, tanpa perlindungan memadai, bahkan kerap menghadapi tekanan hukum sendirian”, ujar Wahyu sikumbang yang juga Jurnalis INews.

Wahyu sikumbang (pakai topi)

Wahyu juga menjelaskan bahwa selama ini banyak pekerja media dibiarkan menghadapi persoalan sendiri baik soal upah, status kerja, maupun tekanan hukum.
Kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan.
Menurutnya lag ironi terbesar justru terjadi pada profesi yang selama ini berdiri di garda depan demokrasi dimana satu sisi pers dituntut menjaga independensi dan kualitas informasi.

Di sisi lain pekerja kerap berada dalam posisi rentan.
“Bagaimana mungkin kita bicara kualitas informasi publik, kalau pekerja medianya sendiri tidak terlindungi?” ujar jurnalis senior ini.

Forum juga menyepakati penyamaan persepsi bahwa serikat pekerja bukan sekadar simbol organisasi melainkan alat perjuangan kolektif untuk memperbaiki posisi tawar pekerja media di hadapan perusahaan dan tekanan eksternal.
Dalam pertemuan itu, ditetapkan pula struktur pengurus PC-FSP-PPMI Bukittinggi Tahun 2026 yang akan bekerja dalam masa transisi (caretaker) hingga Musyawarah Cabang (Musycab) I digelar.
Struktur tersebut diisi sejumlah nama dari berbagai media, di antaranya Iman Chaniago (InfoSumbar24), Bayu Ramadhan (SumbarEksis), Gusnia (LintasTiga), Surya Hadinata, SH (LenteraRakyat), Asroel BB (MerapiNews), Linda Fang (IndonesiaSatu), Roni Novendra (MataJurnalist), Y.N. Sari (Tinombala), dan Fendy Jambak (BukittinggiTop).
Perwakilan KSPSI Bukittinggi, Jimmy Hendrik, mengingatkan pentingnya langkah cepat untuk memperkuat legitimasi organisasi melalui pelaporan berjenjang ke tingkat cabang, provinsi, hingga pusat.
Ke depan, PC-FSP-PPMI Bukittinggi akan memfokuskan diri pada advokasi sengketa ketenagakerjaan, edukasi hak-hak pekerja serta peningkatan kapasitas jurnalis yang mana isu yang selama ini kerap luput dari perhatian serius.
Pembentukan serikat ini menjadi sinyal bahwa pekerja media di daerah mulai menyadari satu hal mendasar tanpa solidaritas dan organisasi yang kuat, posisi mereka akan terus berada di titik paling lemah dalam rantai industri media.(imanchaniago)