Dari Bukittinggi untuk Negeri: ADI Aqabah Lepas Kafilah Dakwah ke Mentawai hingga Kepri

Dari Bukittinggi untuk Negeri: ADI Aqabah Lepas Kafilah Dakwah ke Mentawai hingga Kepri
Oplus_131072

 

Dari Bukittinggi untuk Negeri: ADI Aqabah Lepas Kafilah Dakwah ke Mentawai hingga Kepri

Bukittinggi – Infosumbar24.com. Semangat dakwah kembali bergelora dari Kota Jam Gadang. Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aqabah Bukittinggi secara resmi melepas Mahasiswa Kafilah Dakwah ke berbagai daerah di Sumatera dan Kepulauan Riau, Selasa (10/2/2026), dalam sebuah seremoni yang berlangsung khidmat, hangat, dan penuh nuansa ukhuwah di Masjid Aqabah Bukittinggi.

Pelepasan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum penguatan komitmen dakwah kampus dalam mencetak dai yang tangguh secara keilmuan dan matang secara sosial. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Bukittinggi, Ustadz Dr. H. Fahmil Samiran, Lc., M.Ag, Ketua Himpunan Da’i dan Mubaligh Kota Bukittinggi Ustadz Khairunnas, A.Ma, jajaran pembina, pengawas dan pengurus Yayasan Aqabah, seluruh civitas akademika ADI Aqabah, serta jamaah Masjid Aqabah yang turut memberikan dukungan moril.

 

Direktur ADI Aqabah, Ustadz Awaluddin, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada para donatur dan seluruh pihak yang telah membersamai langkah dakwah ini. Ia mengungkapkan, infaq yang berhasil dihimpun mencapai Rp29.000.000, ditambah berbagai bantuan barang yang akan disalurkan kepada masyarakat di lokasi pengabdian.

“Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti cinta umat kepada dakwah,” ujarnya. Ia juga secara khusus menyampaikan terima kasih kepada ibu-ibu jamaah BKMT Permata Aqabah yang telah menyiapkan jamuan makan malam dalam rangka pelepasan tersebut. “Semoga setiap hidangan yang disajikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir,” tambahnya.

Menguatkan makna kontribusi tersebut, ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا

“Barang siapa yang mempersiapkan seorang pejuang di jalan Allah, maka ia seperti ikut berperang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan itu menegaskan bahwa dakwah adalah kerja kolektif. Tidak semua turun ke lapangan, tetapi semua bisa mengambil bagian. Tidak semua berdiri di mimbar, tetapi semua bisa menopang dari belakang. Dalam kerja dakwah, setiap kontribusi bernilai ibadah.

Kafilah dakwah tahun ini akan menyapa berbagai wilayah dengan karakter sosial dan geografis yang beragam. Para mahasiswa akan diberangkatkan ke Kepulauan Mentawai yang dikenal sebagai daerah kepulauan dengan tantangan akses dan infrastruktur, ke Kuala Kampar di wilayah Kepulauan Riau yang berbatasan dengan kawasan pesisir, serta ke sejumlah daerah di Sumatera Barat seperti Palembayan (Agam) dan Kabupaten Pasaman Barat. Setiap lokasi memiliki dinamika dan kebutuhan dakwah yang berbeda, sehingga menjadi ruang belajar yang luas bagi para dai muda.

Bagi ADI Aqabah, penugasan ke daerah-daerah tersebut bukan hanya tentang menyampaikan ceramah, tetapi tentang menghadirkan pendampingan umat. Di wilayah kepulauan, mereka belajar tentang ketangguhan dan adaptasi. Di kawasan pedesaan dan perbukitan, mereka belajar membangun kedekatan dan kepercayaan. Di tengah masyarakat yang heterogen, mereka belajar merawat persatuan dan menebar kesejukan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Lebih jauh, Ustadz Awaluddin menekankan bahwa kafilah dakwah merupakan “kuliah lapangan” bagi mahasiswa. Mereka tetap berstatus pelajar, namun kini belajar langsung dari denyut kehidupan umat. Jika di kelas mereka memahami teori, di lapangan mereka menguji empati. Jika di bangku kuliah mereka menghafal dalil, di tengah masyarakat mereka belajar hikmah dan kebijaksanaan. Pengalaman inilah yang akan menempa mental, memperluas wawasan, dan menguatkan karakter dai muda.

Sementara itu, Ketua DDII Bukittinggi, Ustadz Dr. H. Fahmil Samiran, Lc., M.Ag, mengingatkan bahwa fondasi utama dakwah adalah niat yang lurus dan hati yang ikhlas. Ia mengutip hadis agung Rasulullah ﷺ:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurutnya, keberhasilan dakwah tidak diukur dari banyaknya jamaah, melainkan dari kebersihan niat dan kesungguhan langkah. “Walaupun jamaah tidak banyak, tetaplah bersemangat. Allah menilai amal dari niat dan keikhlasan,” pesannya.

Ia juga mengutip semangat perjuangan Hasan Al-Banna: jika ada seribu orang baik, jadilah bagian di dalamnya; jika ada seratus, tetaplah berada di barisan itu; jika ada sepuluh, jangan mundur; bahkan jika tinggal satu, maka jadilah orang itu. Pesan tersebut menggugah semangat para mahasiswa untuk tetap teguh dalam barisan dakwah, dalam jumlah besar ataupun kecil.

Apresiasi pun disampaikan kepada Yayasan Aqabah yang dinilai konsisten dalam dakwah dan pendidikan. Dalam perjalanannya, lembaga ini telah melahirkan banyak dai, tokoh, dan ulama yang berkiprah di tengah masyarakat. “Ini adalah warisan perjuangan yang harus dijaga, dirawat, dan ditingkatkan,” tegasnya.

Pengurus Yayasan Aqabah, Ustadz Sulfa Malin, S.S., dalam arahannya memberikan bekal penting tentang etika berdakwah. Ia menekankan bahwa dai harus menjadi teladan sebelum menjadi penceramah, menjadi pelaku sebelum menjadi penyeru. Ia mengingatkan firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

(QS. Ash-Shaff: 2–3)

Ia kemudian memberikan perumpamaan yang sederhana namun mengena. Berdakwah itu seperti memandikan kuda. Sang pemilik harus terlebih dahulu masuk ke dalam air, barulah kuda berani mengikuti. Jika kuda disuruh masuk lebih dahulu sementara kita berdiri di luar, ia akan menolak dan enggan bergerak. Begitulah dakwah; dai harus lebih dulu memberi contoh, menunjukkan keberanian, kesungguhan, dan komitmen sebelum mengajak orang lain melangkah.

Perumpamaan tersebut menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan kata-kata, tetapi menghadirkan keteladanan nyata. Ketika seorang dai hidup dengan nilai yang ia sampaikan, maka pesan akan lebih mudah diterima, lebih dalam menyentuh, dan lebih kuat membekas di hati masyarakat.

Ia juga mengingatkan agar para mahasiswa tidak bersikap menggurui, karena mereka masih dalam proses belajar. Dalam menghadapi tradisi ibadah masyarakat setempat, ia berpesan agar bersikap bijak dan adaptif. Selama tidak bertentangan dengan syariat, hormati dan ikuti. Jangan mudah menyalahkan, tetapi dekati dengan hikmah dan kelembutan. Dengan pendekatan santun dan menghargai kearifan lokal, dakwah akan lebih mudah diterima dan membumi.

Sebagai penutup rangkaian acara, Ketua Yayasan Aqabah Bukittinggi, Ustadz H. Adiwar, S.Pd.I, secara resmi melepas kafilah dakwah melalui prosesi simbolik penyematan serban kepada para peserta, didampingi Ketua Himpunan Da’i dan Mubaligh Kota Bukittinggi, Ustadz Khairunnas. Prosesi tersebut menjadi simbol amanah, tanggung jawab, dan kehormatan yang kini disematkan di pundak para dai muda.

Acara diakhiri dengan doa bersama dan sesi foto penuh semangat. Dari Masjid Aqabah, langkah-langkah kecil itu mulai menapaki jalan panjang pengabdian. Dari Bukittinggi menuju Mentawai, Kuala Kampar, Palembayan, Agam, hingga Pasaman Barat, cahaya dakwah kembali disemai—membawa harapan, menebar hikmah, dan menguatkan peradaban umat.

*Ahmad Hamidi