100 Tahun Jam Gadang, Bukittinggi Tegaskan Diri sebagai Kota Perjuangan

100 Tahun Jam Gadang, Bukittinggi Tegaskan Diri sebagai Kota Perjuangan

100 Tahun Jam Gadang, Bukittinggi Tegaskan Diri sebagai Kota Perjuangan

Bukittinggi,Infosumbar24.com | Peringatan 100 tahun Jam Gadang dimanfaatkan Pemerintah Kota Bukittinggi untuk menegaskan kembali posisi kota tersebut dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Melalui Seminar Nasional bertajuk Bukittinggi Kota Perjuangan, berbagai kalangan akademisi, budayawan, dan pemerintah membahas peran strategis Bukittinggi dalam momentum-momentum penting republik.

Kegiatan yang digelar di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis (18/6/2026), menjadi salah satu agenda utama rangkaian peringatan satu abad Jam Gadang yang jatuh pada 20 Juni 2026.
Mewakili Gubernur Sumatera Barat, Staf Ahli Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Jasman, mengatakan Jam Gadang telah melampaui fungsi awalnya sebagai penanda waktu.

Dalam perjalanan satu abad, bangunan ikonik tersebut menjelma menjadi simbol identitas sekaligus saksi berbagai peristiwa penting yang membentuk perjalanan bangsa.
“Jam Gadang bukan hanya kebanggaan masyarakat Bukittinggi, tetapi juga bagian dari memori kolektif bangsa Indonesia,” ujarnya.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menilai peringatan 100 tahun Jam Gadang seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan nostalgia sejarah. Menurutnya, momentum tersebut perlu menjadi ruang refleksi untuk menempatkan kembali Bukittinggi pada posisi yang semestinya dalam narasi besar sejarah nasional.

Ramlan mengingatkan bahwa Bukittinggi pernah menjadi pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada masa agresi militer Belanda. Keberadaan PDRI menjadi salah satu faktor penting yang menjaga eksistensi Republik Indonesia di tengah upaya Belanda menghapus kedaulatan negara yang baru berdiri.
“Jika republik ini tetap berdiri saat menghadapi masa-masa paling sulit, Bukittinggi adalah salah satu kota yang memiliki andil besar di dalamnya,” kata Ramlan.
Karena itu, ia menilai penyematan predikat Kota Perjuangan bagi Bukittinggi bukan sekadar slogan, melainkan pengakuan atas fakta sejarah yang melekat pada kota tersebut.
Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan, Agus Mulyana, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bukittinggi yang secara konsisten menghidupkan diskusi publik mengenai sejarah daerah.

Menurutnya, tidak banyak pemerintah daerah yang menjadikan sejarah sebagai bagian penting dari pembangunan identitas daerah.
Ia menegaskan, Bukittinggi memiliki posisi istimewa dalam sejarah Indonesia, mulai dari perkembangan kota pada era kolonial hingga perannya sebagai pusat pemerintahan saat republik berada dalam ancaman.
Sementara itu, budayawan dan negarawan Malaysia, Tan Sri Dato’ Seri Utama Dr. Rais Yatim, memandang Jam Gadang sebagai simbol peradaban Minangkabau yang memiliki nilai lintas generasi.

Baginya, bangunan berusia satu abad itu menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah harus berjalan seiring dengan pelestarian warisan budaya.
Lebih dari sekadar menara jam, Jam Gadang hari ini berdiri sebagai penanda perjalanan waktu, saksi sejarah perjuangan republik, sekaligus simbol ketahanan identitas masyarakat Minangkabau di tengah perubahan zaman.

Pada usia genap satu abad, Jam Gadang tidak hanya merayakan masa lalu. Ia menjadi penegas bahwa Bukittinggi masih memiliki ruang penting dalam percakapan tentang sejarah, kebudayaan, dan masa depan Indonesia.