Baralek Gadang 170 Tahun Kweekschool: Antara Nostalgia, Identitas, dan Panggilan Pulang
Oleh : Iman Chaniago.SH
(Jurnalis dan Pimpinan Redaksi Infosumbar24.com)
Ditengah arus modernisasi yang kerap mengikis ingatan kolektif, peringatan 170 tahun Kweekschool melalui agenda “Anak Sikola Radjo Baralek Gadang” pada 29–30 Mei 2026 bukan sekadar reuni, ia hadir sebagai panggilan pulang untuk mengingat, merawat, sekaligus menegaskan kembali jati diri yang nyaris tercerabut oleh waktu.
Rangkaian kegiatan yang dimulai 25 April 2026 lewat seminar ketokohan di SMA Negeri 2 Bukittinggi mencoba membuka kembali lembar sejarah yang lama tersimpan. Kweekschool bukan hanya institusi pendidikan masa lalu, tetapi fondasi yang melahirkan generasi intelektual Minangkabau yang jejaknya kini mulai samar di ruang publik.
Namun, di balik kemegahan agenda yang disusun dari peresmian masjid, connecting session, hingga parade menuju Jam Gadang terselip pertanyaan yang lebih mendasar, sejauh mana pertemuan ini mampu melampaui seremoni dan benar-benar menghidupkan kembali nilai yang dulu diperjuangkan?
Hari puncak pada 30 Mei 2026 akan memadukan simbol dan realitas.
Jalan santai menuju ikon kota, panggung angkatan, hingga makan basamo menjadi representasi kebersamaan.
Tapi lebih dari itu, ia adalah ruang refleksi tentang apa yang tersisa dari ikatan alumni selain kenangan.
Di Gedung Balai Sidang Bung Hatta, tempat sejarah dan gagasan pernah berdenyut, para alumni lintas generasi akan bertemu.
Sebagian mungkin telah berhasil menempuh jalan masing-masing, sebagian lain mungkin masih mencari arah, namun semua dipertemukan oleh satu hal yaitu akar yang sama.
Ketua panitia Joni Feri yang juga Pamong senior menyebut kegiatan ini sebagai upaya memperkuat silaturahmi, tapi bagi banyak alumni ini adalah kesempatan langka untuk menjahit kembali hubungan yang lama terputus bukan hanya dengan sesama, tetapi juga dengan masa lalu mereka sendiri sambung Muhammad Fadhli selaku ketua Nasional Alumni Kweek School SMA Negeri 2 Bukittinggi.
Hari terakhir yang dibiarkan bebas justru menjadi penutup yang paling jujur. Di sanalah pertemuan-pertemuan kecil, percakapan personal, dan tawa yang tak terjadwal akan terjadi
Hal-hal yang sering kali lebih bermakna dibandingkan agenda resmi.
Baralek Gadang ini pada akhirnya bukan tentang seberapa meriah ia digelar. Melainkan tentang apakah ia mampu meninggalkan jejak baru dan kesadaran bahwa sejarah tidak cukup untuk dikenang, tetapi harus dihidupkan kembali dalam tindakan.
Sebab jika tidak, 170 tahun hanya akan menjadi angka tanpa makna apalagi tanpa arah.







