Dua Proyek Gagal Puluhan Milyaran dari APBD Tidak Bermanfaat bagi Warga Bukittinggi di era Pemerintahan Erman – Marfendi
Bukittinggi,Infosumbar24.com |
Oleh : Rudal (Aktivis Ormas Dan Journalist).
Setelah kita membaca di salah satu Media online dengan judul ” Erman Safar berhasil Kelola Anggaran Bukittinggi” ingin rasanya terkekeh dan senyum saja.
Mungkin berita itu hanya Asal Bapak Senang atau Pendalaman Investigatif yang kurang maksimal.
Perlu di simak secara cerdas Dua Proyek Multi Years(Tahun Jamak) yang di laksanakan pada Tahun 2021-2024 yakni :
A. Pembuatan Drainase Primer.
Awal tahun 2021 Pemko Bukittinggi melaksanakan Proyek Drainase Primer dengan Anggaran murni APBD sebesar 15 M tahap 1 dan 4,5 M pada tahap 2 thn 2022 dengan membelah jalan dari SMP 1 sampai ke Pasa Banto, dengan banyaknya korban warga celaka yang sudah masuk ke dalam lubang proyek itu, dengan niat Pemko mengerjakan Proyek tersebut agar mengatasi Kebanjiran di kota ini,, ternyata hasil dari Pekerjaan itu tidak membawa Manfaat bagi Warga Bukittinggi, terbukti setiap hujan lebat sebentar,Banjir udah merata dimana-mana.. Hebat atau Hoax..!!
B. Proyek Kuliner Stasiun Lambuang
Di tahun 2022 Pemko juga melaksanakan proyek infrastruktur membangun Revitalisasi Pemindahan Penampungan pasar bawah dengan nilai kontrak tahap 1 sebesar 4 M,,masa tahap ke 2 tahun berikutnya di rubah nama menjadi Stasiun Food Court atau Stasiun Kuliner atau Stasiun Lambuang dengan nilai Kontrak sekitar 12 M.
Di sinilah mulai terjadi konflik kepentingan antara Pedagang pasa bawah dan pedagang stasiun yang akan menempati kios berukuran 2×2,5m ini, .ketidak adilan penempatan kios dan siapa yang lebih berhak tidak Di lakukan dengan Musyawarah dan secara transparan…
Pasca Launching Stasiun 6 maret 2024 yang lalu membuat ekonomi Pedagang mulai merosot,, peembagian zona tidak adil membuat lebih 20 dari pedagang eks pedagang stasiun dari 232 harus pindah ke luar lokasi karena kurang pemasukan Dari tempat yang lama dan masih ada sekitar 32 Pedagang yang rasanya berhak mendapatkan kios tidak di akui Oleh Dinas terkait,kini mereka tidak bisa menafkahi keluarga Karena tidak bisa berdagang kemanapun.. Sangat miris,sedih,kejam dan tidak memikirkan elonomi kerakyatan..
Sekarang kios di stasiun lambuang banyak di tempati oleh para Tim Sukses Penguasa,, para Pemodal menengah ke Atas,, ibaratkan” dakek tungku nan angek”,,,apakah menambah kesejahteraan ekonomi atas pembangunan itu…? Fakta saja yang bicara..??







