H.Muhammad Fadhli di Pusaran Alek Gadang 170 Tahun Sekolah Radjo: Tenang, Tegas, dan Menggerakkan Alumni
Bukittinggi,Infosumbar24.com | Di tengah gegap gempita persiapan Baralek Gadang 170 Tahun Sekolah Radjo (Kweekschool), satu nama mencuat sebagai poros penggerak alumni lintas generasi.
Angkatan 1996 SMA Negeri 2 Bukittinggi, H.Muhammad Fadhli adalah pengusaha sukses yang memimpin beberapa perusahan, pria kelahiran 1977 ini baru setahun didapuk menjadi ketua umum alumni SMA Negeri 2 Bukittinggi.
Setahun menerajui alumni SMA negeri 2 atau sekolah Radjo Kweek School, gebrakan demi gebrakan dilakukannya seperti pembangunan megah masjid SMA negeri 2 Bukittinggi yang akan diresmikan tidak lama lagi.
H.Fadhli bukan figur yang gemar tampil berisik namun justru di situlah letak kekuatannya.Karakternya yang tenang, lincah,terukur tapi efektif menggerakkan.
Di balik layar, ia menjadi simpul koordinasi yang menjahit komunikasi antar angkatan, meredam ego sektoral, sekaligus memastikan kontribusi alumni berjalan konkret bukan sekadar seremoni.
“Ini bukan sekadar reuni tapi soal marwah sejarah dan tanggung jawab moral alumni,” suatu ketika di forum internal alumni yang menunjukkan garis sikap yang kerap ia tekankan.
Di panggung sebesar Alek Gadang ke-170, tantangan terbesar bukan soal teknis acara, melainkan menyatukan ratusan bahkan ribuan alumni dengan latar belakang, kepentingan, dan dinamika masing-masing dititik inilah kepemimpinan Fadhli diuji.
Ia dikenal mampu menjembatani komunikasi lintas generasi dari alumni senior yang sarat pengalaman hingga generasi muda yang penuh energi.
Pendekatannya sederhana tapi tajam: inklusif, tanpa sekat, namun tetap berorientasi hasil.Hasilnya mulai terlihat seperti partisipasi alumni meningkat signifikan, dukungan mengalir lebih terstruktur, dan agenda tidak lagi berjalan sporadis.
Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Legacy
Fadhli mendorong agar Alek Gadang tidak berhenti sebagai pesta nostalgia dimana ia ingin momentum 170 tahun ini melahirkan sesuatu yang berkelanjutan baik dalam bentuk penguatan jaringan alumni, kontribusi ke sekolah, hingga peran sosial di tengah masyarakat.
“Kalau hanya datang, foto, lalu pulang, itu terlalu kecil untuk sejarah sebesar ini,” ujarnya dalam satu kesempatan.Sikap ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap budaya reuni yang kerap berhenti di euforia sesaat.
Kepemimpinan Sunyi yang Terasa Dampaknya
Tidak banyak pernyataan bombastis tidak pula manuver kontroversial. Namun, dalam diam kerja-kerja H.Fadhli mulai membentuk arah dimana beliau memilih jalur substansi ketimbang sensasi sesuatu yang justru langka di tengah dinamika organisasi alumni yang seringkali penuh gesekan.
Di Alek Gadang 170 Tahun Sekolah Radjo, Muhammad Fadhli mungkin bukan sosok paling vokal di panggung. Tapi banyak yang sepakat tanpa perannya di belakang layar, denyut acara ini tidak akan sekuat sekarang.
Dan di situlah ukuran sebenarnya seorang pemimpin, bukan dari seberapa keras ia bersuara tapi seberapa jauh dampaknya terasa.(imanchaniago)







