Jelang Sekolah Radjo Baralek Gadang Ke-170, Kolonel (Arm) Azhari Figur Tenang Tampek Batanyo Diantara Alumni 96 SMA Negeri 2 Birugo

Jelang Sekolah Radjo Baralek Gadang Ke-170, Kolonel (Arm) Azhari Figur Tenang Tampek Batanyo Diantara Alumni 96 SMA Negeri 2 Birugo

Jelang Sekolah Radjo Baralek Gadang Ke-170, Kolonel (Arm) Azhari Figur Tenang Tampek Batanyo Diantara Alumni 96 SMA Negeri 2 Birugo

 

Bukittinggi,Infosumbar24.com | Jelang “baralek gadang” Sekolah Radjo sekarang SMA Negeri 2 Birugo Bukittinggi tanggal 29-30 Mei ini, satu nama dari barisan alumni 1996 kembali mengapung ke permukaan yaitu Kolonel (Armed) Azhari.

Di tengah konsolidasi besar alumni SMA Negeri 2 Bukittinggi yang berakar dari tradisi keras Kweek School Birugo, Azhari hadir bukan sebagai simbol melainkan sebagai faktor kesuksesan seorang alumni.

Di lingkar internal alumni, pola itu terbaca jelas saat sebagian sibuk pada kemasan acara dan gegap gempita seremoni, Azhari justru bermain di wilayah yang lebih sunyi. Memastikan struktur, disiplin, dan tujuan tidak melenceng sebab gaya ini bukan kebetulan.

Menyelesaikan bangku jurusan Fisika atau IPA tahun 1996 di SMA Birugo, Azhari salah satu yang melanjutkan ketradisian SMA Birugo untuk meneruskan ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia sekarang Akademi Militer atau Akmil.

Beliau salah satu dari sedikit yang lolos dalam daftar putra terbaik tanah Minangkabau ketika itu.

Pengalaman 26 tahun di posisi strategis dunia Militer membuatnya sebagai salah satu yang cukup dikenal dikalangan Lulusan AKMIL tahun 1999.

Menjadi komandan Batalyon dan Komandan Kodim sudah menjadi makanannya, dimana saat ini bertugas di Mabesad yang sebelumnya dipercaya sebagai Dandim Balikpapan sebelum menjabat Kasiter Korem 133/NW

Latar belakangnya di artileri medan membentuk cara berpikir yang tak toleran terhadap improvisasi tanpa kendali.

Sumber di kalangan alumni 96 menyebut Azhari kerap menjadi “rem sekaligus kompas”. Ia tidak mencari panggung, tapi ketika dinamika mulai liar suaranya menjadi rujukan. Tegas, langsung ke inti, dan minim basa-basi.

Dalam forum-forum terbatas, ia dikenal lebih memilih bicara soal keberlanjutan tentang apa yang tersisa setelah pesta usai ketimbang sekadar sukses acara.

Di antara alumni 96 yang kini tersebar di berbagai sektor, posisi Azhari memang unik sebab ia tidakmembawa kultur militer ke ruang sipil alumni tetapi jelas terstruktur, berjenjang dan berorientasi hasil.

Bagi sebagian, pendekatan ini terasa kaku namun bagi yang melihat lebih jauh, justru di situlah letak kebutuhan untuk engimbangi euforia dengan kontrol.

Baralek gadang kali ini menjadi ujian apakah ia akan berhenti sebagai perayaan nostalgia, atau berubah menjadi titik balik konsolidasi kekuatan alumni lintas generasi. Dalam konteks itu, figur seperti Azhari menjadi krusial bukan karena paling vokal, tetapi karena paling siap memastikan semuanya tidak berjalan tanpa arah.

Singkatnya, di tengah riuhnya persiapan, Kolonel (Armed) Azhari berdiri sebagai variabel yang sering diabaikan, tapi menentukan.(imanchaniago)