Langkah Akurat Tokoh Riau Gandeng Mahyeldi Urus Gelar Pahlawan Nasional Mr. Assaat, Sang Presiden RI yang ‘Dilupakan’

Langkah Akurat Tokoh Riau Gandeng Mahyeldi Urus Gelar Pahlawan Nasional Mr. Assaat, Sang Presiden RI yang ‘Dilupakan’

Jakarta,Infosumbar24.com | Gelombang perjuangan meluruskan catatan sejarah bangsa memasuki babak baru yang sangat menentukan. Dipimpin langsung oleh Buya Mahyeldi bersama jajaran tokoh Riau, tim dan akademisi lintas wilayah, rombongan tim pengusul gelar Pahlawan Nasional untuk Mr. Assaat Datuk Mudo bertolak menuju Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (30/8).

​Misi utama gerak cepat ini adalah menggelar audiensi tingkat tinggi bersama Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X serta Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM).
Langkah strategis ini dinilai para sejarawan sebagai momentum emasy untuk membuka kembali fakta historis substansial terkait peran vital Mr. Assaat dalam pendirian UGM serta kepemimpinannya sebagai Acting Presiden Republik Indonesia di era Republik Indonesia Serikat (RIS).

​Misi Penguatan Fakta Historis
​Pengusulan gelar Pahlawan Nasional ini bukan sekadar agenda administratif rutin, melainkan sebuah restrukturisasi memori kolektif bangsa. Ketegasan argumen sejarah didukung penuh oleh jajaran tokoh masyarakat yang hadir langsung dalam rombongan.

​Pimpinan Rombongan Buya Mahyeldi, ketua Tim Pengusul Akmal Famajra dan Azhari.
​Perwakilan Tokoh Masyarakat & Ormas diantaranya M. Hamdi (Ketua Ikatan Keluarga Banuhampu / IKB Pekanbaru) dan Nedi ST Batuah (Ketua Ikatan Keluarga Kubang Putih / IKKP Pekanbaru).

Di balik pergerakan besar pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk Mr. Assaat Datuk Mudo, terselip nama tokoh penggerak anak jati Kubang putih yang dikenal sangat solid di akar rumput yaitu Nedi ST Batuah.
Sebagai Ketua Ikatan Keluarga Kubang Putih (IKKP) Pekanbaru, sepak terjang beliau menjadi salah satu motor penyatu kekuatan masyarakat Minang khususnya dari Ranah Kubang Putih
dalam mengawal pengakuan sejarah bagi sang negarawan besar.

Bagi Nedi ST Batuah, pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk Mr. Assaat adalah harga diri sejarah yang wajib dituntaskan.
“Kehadiran dan ketegasannya di lapangan menjadi jaminan bahwa perjuangan ini tidak akan berhenti pada wacana, melainkan harus berakhir dengan pengakuan resmi negara bagi sang Presiden Republik Indonesia Serikat”, ujar Nedi dalam wawancara dengan media infosumbar24.com.

Saat ini ​tim pertama pengusul sudah berada di Jakarta sebelum nantinya di Yogyakarta gabung bersama ketua tim Biya Mahyeldi yang juga Gubernur Sumatera Barat. Di Jakarta tim bergerak dengan penelusuran Dokumen Otentik di ANRI dan Pertemuan Trah Assaat.
​Rangkaian agenda ini dilanjutkan dengan penelusuran fakta hukum dan administratif di Jakarta.

Tim juga dijadwalkan mendatangi Kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) guna merekonstruksi dan memvalidasi dokumen otentik kepresidenan serta rekam jejak perjuangan Mr. Assaat.

​Guna memperkuat bukti keabsahan silsilah dan memori sejarah keluarga. tim juga akan melangsungkan pertemuan khusus dengan dua anak kandung Mr. Assaat Datuk Mudo, yaitu M. Iqbal dan Lussy.
​Pengungkapan arsip primer ini diharapkan menjadi pijakan akademis yang tidak terbantahkan bagi Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dalam memproses penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi sang negarawan ulung asal Minangkabau tersebut.
(imanchaniago)

You cannot copy content of this page