Infosumbar24.com – Oleh : Yessy Susanty Sabri
Staf Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK. Unand/ KSM Paru RSUP Dr. M Djamil Padang.
Kebiasaan merokok sudah dikenal sejak 7000 tahun sebelum Masehi oleh bangsa Aztek. Aktifitas merokok kemudian menyebar keseluruh dunia melalui berbagai macam cara seperti perdagangan, penjelajahan serta penjajahan. Bangsa Indonesia sendiri mengenal rokok dari bangsa Belanda yang menjajah nusantara.
Istilah rokok yang kita kenal, berasal dari bahasa Belanda yaitu roken. Rokok dengan cepat menyebar di Indonesia. Kebiasaan ini diikuti oleh hampir semua kalangan dan jenis kelamin. Rokok bahkan masuk sebagai bagian dari kebudayaan seperti kebiasaan mengundang kerabat untuk pesta pernikahan dengan menggunakan rokok.
Berdasarkan Survey Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 jumlah perokok di Indonesia sekitar 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya berusia 10-18 tahun.1 Banyaknya jumlah perokok menyebabkan semakin berkembangnya industri rokok di Indonesia.
Perkembangan industri ini bukan saja peningkatan pada jumlah pabrik rokok tapi juga variasi dari jenis rokok itu sendiri. Berbagai macam zat ditambahkan kedalam sebatang rokok yang akan meningkatkan potensi zat-zat berbahaya yang akan dihirup oleh seorang perokok.
Selain itu jenis rokok pun sudah sangat berkembang. Dahulu kita hanya mengenal rokok konvensional yang dibakar, sekarang sudah di produksi rokok elektrik yang tidak perlu dibakar. Semua inovasi dari rokok ini bertujuan untuk menarik minat perokok atau calon perokok terutama dikalangan remaja.
Kebiasaan merokok dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Hal ini sudah lama diketahui.
1. batang rokok mengandung lebih dari 4.000 jenis bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh. Publikasi ilmiah pada tahun 1950 sudah menjelaskan tentang hubungan kanker paru dengan kebiasaan merokok.
2 Asap rokok yang masuk ke saluran napas dapat mempengaruhi sebagian besar organ tubuh.
3 Pengaruh buruk rokok terhadap saluran napas sudah diketahui sejak lama. Banyak penyakit paru yang berhubungan dengan rokok. Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh paparan gas baracun yang salah satunya adalah asap rokok pada saluran napas.
Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga saluran napas kita jangan terpapar gas beracun atau berbahaya. Kanker Paru yang merupakan keganasan pada saluran napas dengan angka kematian yang cukup tinggi juga berhubungan dengan kebiasaan merokok.
Paparan asap rokok terutama pada usia muda juga merupakan faktor risiko untuk kejadian asma. Merokok juga meningkatkan perburukan penyakit paru lainnya seperti tuberkulosis, pneumonia, bronkitis, bronkiolitis, idiopatic Pulmonary fibrosis (IPF) serta penyakit lainnya.
4.Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2025 ini, World Health Organization (WHO) mengusung tema ”mengungkap daya tarik terselubung dari taktik industri tembakau dan produk nikotin”.
Tema ini diangkat, karena dianggap sangat penting untuk melindungi masyarakat terhadap strategi dari industri tembakau untuk menarik peminat, terutama dari kalangan muda. Stategi pertama adalah dengan membuat produk mereka menjadi menarik dan aktraktif.
Bebarapa taktik yang digunakan oleh industri tembakau dan produk nikotin adalah dengan menambahkan perasa dan zat lain untuk mengubah bau, rasa atau tampilan guna menyamarkan rasa tajam tembakau.
Perisa sering disebut sebagai alasan untuk mulai menggunakan nikotin dan produk tembakau dan lebih sulit untuk dihentikan. Strategi kedua adalah dengan menggunakan strategi yang glamor pada disain dan warna produk dan memasarkan melalui media sosial.
Strategi ketiga adalah dengan menggunakan disain yang mirip permen, mainan bahkan karakter kartun yang disukai anak anak.5
Berdasarkan hal-hal diatas maka WHO ingin meningkatkan kewaspadaan global terhadap taktik industri rokok yang akan membahayakan kesehatan masyarakat akibat paparan zat berbahaya yang terkandung pada asap rokok.
Bagi kita semua, upaya untuk mencegah paparan asap rokok baik karena kebiasaan merokok ataupun akibat paparan asap rokok lingkungan harus ditingkatkan. Upaya tersebut harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar serta masyarakat umum agar penyakit yang berhubungan dengan rokok dapat dicegah dan dihindari. Sehingga kesehatan yang prima tetap bisa terjaga.
Rujukan :
1. Kemenkes RI. Survey Kesehatan Indonesia 2023. Jakarta: Kemenkes RI; 2024. 421–42 p.
2. Golden RN, Fiore MC. The 50th anniversary of the Surgeon General’s Report on smoking and health. Wis Med J. 2014;113(2):81–2.
3. Musk AW, De Klerk NH. History of tobacco and health. Respirology. 2003;8(3):286–90.
4. Varghese J, Muntode Gharde P. A Comprehensive Review on the Impacts of Smoking on the Health of an Individual. Cureus. 2023;15(10).
5. WHO. World No Tobacco Day 2025. Kobe Japan; 2025.
(*)







