Ketika Gawai Mengalahkan Pasangan: Alarm Krisis Keluarga Muslim di Era Digital
Ketika Gawai Mengalahkan Pasangan: Alarm Krisis Keluarga Muslim di Era Digital
Oleh: Dr. Ahmad Hamidi, S.HI., M.A.
Penyuluh Agama Islam KUA Guguk Panjang
Di ruang-ruang keluarga Indonesia hari ini, ada pemandangan yang semakin biasa namun sesungguhnya mengkhawatirkan. Suami dan istri duduk berdampingan, tetapi tidak saling berbicara. Anak-anak berada di rumah yang sama, tetapi masing-masing tenggelam dalam dunianya sendiri. Jari-jari sibuk menggeser layar, sementara hati perlahan menjauh satu sama lain.
Kita hidup pada zaman yang mampu menghubungkan manusia lintas benua dalam hitungan detik, tetapi ironisnya semakin banyak keluarga yang gagal membangun komunikasi dengan orang-orang terdekatnya. Di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, institusi keluarga justru menghadapi ujian yang semakin berat.
Data nasional yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Februari 2026 menunjukkan tahun 2025 adanya 1.480.048 peristiwa pernikahan dan 438.168 perceraian. Lebih mengkhawatirkan lagi, mayoritas perceraian didominasi oleh cerai gugat, yakni gugatan yang diajukan oleh pihak istri. Angka ini bukan sekadar statistik hukum, melainkan cermin kegelisahan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga Indonesia.
Kondisi serupa terlihat di Kota Bukittinggi. Berdasarkan Profil Gender dan Anak Kota Bukittinggi Tahun 2025, Pengadilan Agama Bukittinggi memutus 561 perkara perceraian, terdiri dari 126 cerai talak dan 435 cerai gugat. Artinya, sekitar 78 persen perceraian berasal dari gugatan istri. Angka ini seharusnya menjadi alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari keluarga, tokoh agama, pemerintah daerah, hingga lembaga pendidikan.
Perceraian Bukan Lagi Didominasi Faktor Ekonomi
Selama ini banyak orang beranggapan bahwa perceraian terjadi karena kemiskinan. Padahal fakta menunjukkan bahwa penyebab terbesar justru adalah perselisihan dan pertengkaran yang terjadi secara terus-menerus. Faktor ekonomi memang berpengaruh, tetapi sering kali hanya menjadi pemicu tambahan dari relasi yang memang sudah rapuh.
Yang menarik, fenomena ini menunjukkan bahwa problem utama keluarga modern bukan sekadar kekurangan materi, melainkan kekurangan kemampuan mengelola hubungan.
Banyak pasangan mampu membeli rumah, kendaraan, bahkan liburan bersama, tetapi gagal membangun dialog yang sehat. Mereka memiliki akses internet berkecepatan tinggi, tetapi miskin komunikasi emosional. Mereka terhubung dengan ratusan orang melalui media sosial, tetapi kehilangan kedekatan dengan pasangan sendiri.
Di sinilah letak paradoks keluarga modern.
Era Digital dan Lahirnya “Kesepian Baru”
Sosiolog modern menyebut fenomena ini sebagai digital loneliness, kesepian yang muncul di tengah keramaian digital.
Media sosial menciptakan ilusi kedekatan. Seseorang bisa menghabiskan berjam-jam berinteraksi dengan orang lain secara virtual, namun mengabaikan orang yang hidup serumah dengannya. Tidak sedikit konflik rumah tangga yang bermula dari hal-hal yang tampak sederhana: pasangan merasa tidak didengar, tidak dihargai, atau tidak mendapatkan perhatian yang cukup.
Teknologi juga melahirkan budaya perbandingan yang tidak sehat. Setiap hari masyarakat disuguhi foto-foto keluarga yang tampak harmonis, pasangan yang terlihat romantis, serta kehidupan yang seolah sempurna. Akibatnya, banyak orang mulai membandingkan kehidupan nyata mereka dengan realitas semu yang dipertontonkan media sosial.
Ketika ekspektasi lebih tinggi daripada realitas, kekecewaan menjadi tak terhindarkan.
Lebih berbahaya lagi, ruang digital membuka peluang lahirnya perselingkuhan emosional. Banyak rumah tangga tidak runtuh karena hubungan fisik dengan orang lain, tetapi karena hilangnya kepercayaan akibat komunikasi tersembunyi melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
Dalam banyak kasus, perceraian sesungguhnya tidak dimulai di ruang sidang pengadilan. Ia dimulai dari hilangnya percakapan di meja makan, dari pesan yang tidak dibalas, dari perhatian yang dialihkan kepada layar telepon genggam.
Mengapa Istri Lebih Banyak Menggugat Cerai?
Dominasi cerai gugat juga perlu dibaca secara lebih mendalam.
Fenomena ini menunjukkan meningkatnya kesadaran perempuan terhadap hak-haknya dalam rumah tangga. Ketika tidak lagi menemukan rasa aman, penghormatan, nafkah yang layak, atau kenyamanan psikologis, sebagian perempuan memilih mengakhiri hubungan yang dianggap tidak sehat.
Namun di sisi lain, tingginya angka cerai gugat juga mengindikasikan adanya kegagalan keluarga dalam membangun kemitraan yang setara dan penuh penghormatan.
Padahal Islam menempatkan pernikahan bukan sebagai hubungan dominasi, melainkan hubungan saling melengkapi.
Allah SWT berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan padanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Menarik untuk dicermati bahwa tujuan pernikahan dalam ayat ini bukanlah kekayaan, popularitas, ataupun status sosial. Tujuan pertama yang disebut Al-Qur’an adalah litaskunuu ilaiha — menghadirkan ketenangan.
Pertanyaannya, apakah rumah-rumah kita hari ini masih menjadi tempat mencari ketenangan, atau justru menjadi sumber stres baru?
Krisis Komunikasi dan Hilangnya Qaulan Ma’rufa
Jika ditelusuri lebih jauh, sebagian besar konflik keluarga bermuara pada kegagalan komunikasi. Islam sejak awal telah mengajarkan konsep qaulan ma’rufa, yaitu berbicara dengan baik, santun, dan penuh penghormatan.
Sayangnya, banyak pasangan hari ini lebih sopan kepada rekan kerja dibanding kepada pasangan sendiri. Mereka mampu tersenyum kepada pelanggan, tetapi mudah membentak pasangan. Mereka menjaga etika di media sosial, tetapi kehilangan adab di dalam rumah.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
Hadis ini mengubah ukuran kesuksesan seorang Muslim. Kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari rajinnya beribadah di masjid, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan pasangan dan keluarganya.
Keluarga Sakinah: Solusi Islam untuk Krisis Modern

Di tengah derasnya arus digitalisasi, konsep keluarga sakinah yang diajarkan Islam justru semakin relevan.
Pertama, mengembalikan rumah sebagai ruang dialog. Keluarga harus memiliki waktu khusus tanpa gawai, tanpa televisi, dan tanpa gangguan media sosial. Hubungan yang kuat lahir dari percakapan, bukan dari sinyal internet.
Kedua, membangun kecerdasan digital keluarga. Tidak semua yang halal untuk dilihat harus dilihat. Tidak semua yang ingin dibagikan harus dipublikasikan. Etika digital perlu menjadi bagian dari pendidikan keluarga Muslim.
Ketiga, menghidupkan spiritualitas keluarga. Shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, saling mendoakan, dan berdiskusi tentang nilai-nilai agama terbukti menjadi perekat yang memperkuat ketahanan keluarga.
Keempat, mengubah paradigma pernikahan. Pernikahan bukan tentang mencari pasangan yang sempurna, tetapi tentang belajar menjadi pasangan yang lebih baik setiap hari.
Dari Mempersiapkan Pesta ke Mempersiapkan Pernikahan
Salah satu ironi terbesar masyarakat kita adalah begitu serius mempersiapkan resepsi, tetapi kurang serius mempersiapkan kehidupan setelah resepsi.
Kita rela menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk pesta yang berlangsung beberapa jam, tetapi enggan meluangkan waktu mempelajari ilmu komunikasi keluarga, pengasuhan anak, manajemen konflik, dan pendidikan agama dalam rumah tangga.
Akibatnya, banyak pasangan siap menikah secara administratif, tetapi belum siap menikah secara psikologis dan spiritual.
Karena itu, tingginya angka perceraian tidak cukup dijawab dengan prosedur hukum. Yang lebih penting adalah membangun ketahanan keluarga sejak awal melalui pendidikan pranikah, penguatan literasi digital, bimbingan keluarga, serta revitalisasi fungsi masjid, KUA, dan penyuluh agama sebagai pusat edukasi keluarga.
Penutup
Tingginya angka perceraian di Indonesia, termasuk di Kota Bukittinggi, harus dibaca sebagai peringatan bahwa keluarga sedang menghadapi tantangan besar. Jika institusi keluarga melemah, maka sesungguhnya masa depan bangsa sedang dipertaruhkan.
Kita membutuhkan lebih dari sekadar teknologi yang canggih. Kita membutuhkan keluarga yang kuat. Kita membutuhkan lebih dari sekadar rumah yang megah. Kita membutuhkan rumah yang menghadirkan sakinah.
Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh tingginya gedung pencakar langit, melainkan oleh kokohnya keluarga yang menjadi fondasi masyarakat. Dan keluarga yang kokoh tidak dibangun oleh sinyal internet yang kuat, melainkan oleh iman yang kuat, komunikasi yang sehat, serta cinta dan kasih sayang yang dirawat setiap hari.
*Editor : Iman Chaniago






