Tragedi Jam Gadang 1958: Ketika Dentang Waktu Menjadi Saksi Darah Rakyat Sumatera Bara

Tragedi Jam Gadang 1958: Ketika Dentang Waktu Menjadi Saksi Darah Rakyat Sumatera Barat

Oleh: Ivan Haykel S.IP Aktivis Demokrasi, (Alumni Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Presidium KAHMI Bukittinggi)

 

Jam Gadang hari ini dikenal sebagai ikon Kota Bukittinggi dimana wisatawan datang, masyarakat berkumpul, kamera mengabadikan kemegahan menara jam yang menjadi simbol kota.
Namun di balik dentang waktunya, tersimpan sebuah catatan sejarah yang jauh lebih getir.
Pada 1958, ketika konflik antara pemerintah pusat dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) mencapai puncaknya, Bukittinggi menjadi salah satu wilayah penting dalam operasi militer pemerintah pusat.

Salah satu kisah paling kelam yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Jam Gadang menyebut adanya pembunuhan terhadap ratusan orang di sekitar kawasan Jam Gadang.
Angka 187 korban muncul dalam laporan Singgalang edisi 20 Januari 2000 dengan judul “Tragedi di Bawah Jam Gadang, Pasukan A. Yani Bunuh 187 Orang”. Angka tersebut kemudian dikutip kembali oleh sejumlah tulisan sejarah dan media.
Yang membuat kisah itu semakin memilukan, dari 187 orang tersebut disebut hanya 17 orang yang diidentifikasi sebagai anggota PRRI, sementara 170 lainnya disebut sebagai warga sipil.

Mereka berasal dari latar belakang masyarakat biasa.
Petani, pedagang, pelajar bahkan warga yang hidup di tengah pergolakan politik dan konflik bersenjata yang mereka sendiri belum tentu terlibat di dalamnya.
Dalam sejumlah catatan sejarah lisan yang dikutip kembali oleh sumber-sumber sekunder, warga yang ditangkap digiring menuju kawasan Jam Gadang setelah itu terdengar suara tembakan dari arah kawasan tersebut.
Jenazah para korban kemudian disebut dibiarkan berjejer di sekitar kawasan Jam Gadang.
Jika catatan tersebut benar, maka tragedi ini bukan sekadar bagian dari sejarah konflik PRRI dan pemerintah pusat.
Ia adalah catatan tentang bagaimana konflik politik dan bersenjata dapat menyeret rakyat biasa ke dalam pusaran kekerasan.
Jam Gadang Tetap Berdiri, Sejarah Tidak Boleh Dihapus
Puluhan tahun telah berlalu.

Jam Gadang tetap berdiri kokoh di jantung Bukittinggi yang mana kawasan di sekitarnya berubah menjadi pusat wisata, perdagangan dan ruang publik.
Namun sejarah tidak semestinya hanya dirayakan ketika berbicara tentang kejayaan.
Sejarah juga harus berani mengingat luka dimana
Peristiwa 1958 perlu ditempatkan dalam konteks zamannya.

Konflik PRRI, ketegangan hubungan pusat-daerah, operasi militer pemerintah dan kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat.
Pemerintah pusat ketika itu melakukan operasi militer untuk menumpas PRRI Sumatera Barat, operasi tersebut dipimpin Kolonel Ahmad Yani melalui Operasi 17 Agustus.
Tetapi di tengah operasi tersebut, persoalan kemanusiaan tetap menjadi pertanyaan penting bagaimana nasib rakyat yang tidak terlibat dalam pertempuran?
Itulah pertanyaan yang membuat Tragedi Jam Gadang tetap relevan untuk dibicarakan bukan untuk membuka kembali permusuhan apalagi untuk mewariskan kebencian.
Dan bukan pula untuk mempertentangkan rakyat dengan negara hari ini melainkan untuk mengingatkan bahwa kekerasan terhadap rakyat sipil tidak boleh menjadi harga yang dianggap wajar dalam setiap konflik politik dan bersenjata.
Jam Gadang telah berdentang selama lebih dari satu abad.
Ia menyaksikan pergantian kekuasaan, perubahan zaman, pertumbuhan kota dan jutaan manusia yang datang silih berganti.
Tetapi mungkin ada satu pesan sejarah yang paling penting dari tempat itu.

Waktu boleh berlalu luka boleh mengering, tetapi kebenaran sejarah harus tetap dicari, dicatat dan diwariskan dengan jujur agar tragedi serupa tidak pernah lagi terjadi.
Jam Gadang bukan hanya penanda waktu bagi Bukittinggi tetapi juga pengingat bahwa di balik perjalanan sebuah kota, selalu ada manusia dan sejarah yang tidak boleh dilupakan.

You cannot copy content of this page