Nobar “Reformasi 98” di Palanta Andaleh Anak Air, GPII Bukittinggi Ajak Gen-Z Jangan Tidur
Bukittinggi, Infosumbar24.com | Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Bukittinggi menggelar nonton bareng film Di Balik 98 di Rumah Makan Andaleh Pulai Anak Air, Kamis (21/05/2026). Kegiatan ini tidak sekadar mengenang Reformasi 1998, tetapi menjadi forum politik-kebangsaan untuk mengkritisi arah demokrasi Indonesia yang dinilai menghadapi gejala kemunduran.
Ketua GPII Bukittinggi, Ridwan, menegaskan Reformasi lahir dari keberanian pemuda melawan konsentrasi kekuasaan yang tertutup terhadap kritik dan karena itu, semangat Reformasi harus terus dijaga agar demokrasi tidak kembali tersandera oleh praktik kekuasaan yang terpusat.
“Reformasi bukan romantisme sejarah tapi alarm politik agar bangsa tidak kembali pada pola kekuasaan yang anti kritik dan menjauh dari aspirasi rakyat,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, sejumlah narasumber dihadirkan seperti Buya Marfendi mntan Wakil Walikota Bukittinggi 2020-2024, praktisi hukum Dariyon S.H, M.H dan Hendri dari Kesbangpol Kota Bukittinggi.
Menyoroti munculnya gejala penyempitan ruang demokrasi, mulai dari melemahnya kebebasan berekspresi, menguatnya sentralisasi kebijakan hingga munculnya intimidasi terhadap kritik publik.
Ivan Haikal, salah satu penggagas kegiatan, menilai demokrasi hanya akan sehat jika negara membuka ruang kritik dan menjamin kebebasan sipil. Menurutnya, pemuda memiliki tanggung jawab historis untuk mengawal konstitusi dan mencegah kemunduran demokrasi.
“Ketika kritik mulai dianggap ancaman maka saat itulah demokrasi sedang berada di titik rawan,” ujarnya.
Perwakilan Kesbangpol Kota Bukittinggi, Hendri menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak konstitusional warga negara sebagaimana dijamin UUD 1945.
Hendri yang merupakan Kabid Kepemudaan dan organisasi mengingatkan, bahwa Reformasi telah melahirkan otonomi daerah dan tata kelola demokrasi yang tidak boleh mengalami kemunduran.
Sementara itu, Buya Marfendi menekankan pentingnya membangun generasi muda yang berpikir kritis, berkarakter, dan memiliki kesadaran ideologis terhadap persoalan bangsa.
“Bangsa besar lahir dari pemuda yang kuat secara intelektual dan moral. Idealisme jangan ditukar dengan pragmatisme politik,” katanya.
Praktisi hukum Dafriyon, S.H., M.H., juga mengingatkan agar gerakan mahasiswa tetap independen dan tidak kehilangan orientasi perjuangan.
“Demokrasi membutuhkan keberanian moral, bukan sekadar keberanian politik,” ujarnya.
Diskusi ditutup dengan seruan bersama agar pemuda terus mengawal demokrasi, menjaga kebebasan sipil, serta memastikan Reformasi tetap menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
(iman chaniago)






