ADI Aqabah Bukittinggi Bekali Dosen dengan Jiwa Entrepreneur, Ustadz Muhammad Fadhli: Muslim Harus Rajin, Ahli, dan Berani Menangkap Peluang

BUKITTINGGI, INFOSUMBAR24.COM — Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aqabah Bukittinggi menggelar kegiatan pembekalan entrepreneur bagi para dosen pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Muhammad Fadhli, M.Pd., seorang entrepreneur Muslim asal Pekanbaru, Riau, yang juga dikenal sebagai alumni Akademi Bahasa (AKABAH) Aqabah, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Riau, serta Ketua Jaringan Saudagar Riau.

Mengusung tema “Konsep Keyakinan Seorang Muslim tentang Berekonomi”, pembekalan ini menekankan pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan yang berlandaskan keyakinan kepada Allah SWT, kedisiplinan, penguasaan ilmu, kejujuran, serta keberanian dalam menangkap peluang usaha.

Dalam pemaparannya, Muhammad Fadhli menyoroti pentingnya mengintegrasikan pemahaman agama dengan tindakan nyata dalam membangun kemandirian ekonomi. Menurutnya, pemahaman tentang rezeki harus berjalan beriringan dengan ikhtiar, kerja keras, dan kemampuan membaca peluang.

“Yang paling memahami konsep rezeki seharusnya adalah para ustaz. Namun, pemahaman tersebut perlu diiringi dengan tindakan nyata. Jangan sampai orang lain sudah melangkah jauh dalam dunia usaha, sementara kita masih berhenti pada doa tanpa memaksimalkan ikhtiar,” demikian pesan yang ditekankannya dalam pembekalan tersebut.

Ia mengingatkan bahwa tawakal bukanlah alasan untuk menghindari usaha. Sebaliknya, keyakinan kepada Allah harus menjadi landasan untuk bekerja secara sungguh-sungguh, mengambil keputusan, dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

Meneladani Rasulullah SAW dalam Membangun Kemandirian Ekonomi

Muhammad Fadhli juga mengajak peserta meneladani perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, khususnya dalam membangun etos kerja dan aktivitas ekonomi.

Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW telah mengenal dunia kerja sejak usia muda melalui aktivitas menggembala kambing. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya proses, tanggung jawab, dan pembentukan karakter dalam perjalanan menuju kemandirian ekonomi.

Menurutnya, seorang Muslim tidak seharusnya memandang aktivitas ekonomi sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai keislaman. Kejujuran, amanah, kerja keras, dan tanggung jawab justru harus menjadi fondasi utama dalam menjalankan usaha.

Ia juga mengangkat perjalanan pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar perempuan terkemuka, sebagai bagian dari refleksi mengenai aktivitas perdagangan dan kehidupan ekonomi pada masa Nabi.

Pesan yang ingin ditegaskannya adalah bahwa dunia usaha membutuhkan karakter yang kuat, integritas, serta kemampuan mengelola peluang secara bertanggung jawab.

Membaca Peluang Bisnis dari Lingkungan Terdekat

Dalam pembekalan tersebut, peserta juga didorong untuk memiliki kepekaan terhadap potensi ekonomi di lingkungan masing-masing.

Muhammad Fadhli menekankan bahwa memulai usaha tidak selalu harus dengan modal besar atau gagasan yang rumit. Langkah awal dapat dimulai dengan mengamati kebutuhan masyarakat, mengenali potensi produk, memahami karakter konsumen, dan membaca peluang pasar.

Menurutnya, seorang entrepreneur harus mampu menjawab tiga pertanyaan mendasar: potensi apa yang tersedia, produk apa yang dapat dikembangkan, dan siapa konsumen yang membutuhkan produk tersebut.

Kemampuan membaca peluang ini menjadi penting bagi para dosen, terutama dalam mengembangkan kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan tanggung jawab utama dalam pendidikan dan dakwah.

Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan yang datang tidak seharusnya dibiarkan berlalu begitu saja. Seorang pebisnis perlu memiliki keberanian untuk memulai, sebab peluang tidak akan menghasilkan apa-apa apabila hanya dipikirkan tanpa diwujudkan melalui tindakan.

Mengambil Pelajaran Kewirausahaan dari Ibadah Shalat

Salah satu bagian menarik dalam pemaparan Muhammad Fadhli adalah ketika ia menghubungkan nilai-nilai ibadah salat dengan pembentukan karakter seorang entrepreneur.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

Artinya: “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah dan aktivitas ekonomi bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Seorang Muslim dituntut menjaga hubungan dengan Allah sekaligus menjalankan ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun kesejahteraan.

Muhammad Fadhli kemudian menguraikan sejumlah nilai dalam ibadah salat yang relevan dengan dunia usaha.

Pertama, disiplin waktu. Ia mengingatkan pentingnya menghargai waktu dan membangun kebiasaan produktif. Salat yang memiliki waktu-waktu tertentu mengajarkan keteraturan, sedangkan dunia usaha menuntut konsistensi dan ketepatan dalam menjalankan pekerjaan.

Kedua, pentingnya standar operasional prosedur (SOP). Melalui hadis Rasulullah SAW, “Ṣallū kamā ra’aitumūnī uṣallī”—salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat—ia mengajak peserta memahami pentingnya mengikuti tata cara dan standar yang benar. Dalam kewirausahaan, usaha juga membutuhkan prosedur kerja yang jelas agar kualitas pelayanan dan produk tetap terjaga.

Ketiga, penguasaan ilmu. Salat menuntut pemahaman terhadap bacaan dan tata caranya. Demikian pula, seorang entrepreneur harus terus belajar, memahami bidang usaha yang digeluti, serta meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing.

Keempat, fokus dan kesungguhan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan membutuhkan konsentrasi, ketekunan, dan kemampuan menjaga arah perjuangan di tengah berbagai tantangan.

Kelima, kolaborasi dan berjamaah. Salat berjamaah menjadi pelajaran mengenai pentingnya kebersamaan. Dalam dunia usaha, jaringan dan kerja sama merupakan modal sosial yang sangat berharga. Karena itu, ia mendorong penguatan jejaring bisnis serta budaya saling mendukung di antara sesama anggota kelompok usaha.

Rajin, Terus Belajar, dan Menjadi Ahli

Dalam bagian lain pemaparannya, Muhammad Fadhli menyampaikan pesan tentang pentingnya etos kerja dan pengembangan kapasitas diri.

Ia menegaskan bahwa kecerdasan saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan seseorang. Sebaliknya, keterbatasan kemampuan awal juga tidak harus menjadi penghalang untuk berkembang.

Menurutnya, kerajinan, kedisiplinan, kemauan belajar, dan konsistensi merupakan faktor penting dalam membangun keberhasilan.

Semangat tersebut sejalan dengan ungkapan populer, “Man jadda wajada”, yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil dari kesungguhannya.

Ia juga mengajak peserta menjadikan perintah membaca dalam wahyu pertama, Surah Al-‘Alaq, sebagai inspirasi untuk terus memperluas wawasan dan memperdalam pengetahuan.

Dalam pandangannya, seorang Muslim yang ingin meningkatkan taraf ekonominya harus memiliki kemauan untuk berkarya, mengembangkan keahlian, dan tidak berhenti pada kemampuan rata-rata.

“Jangan hanya menjadi orang biasa dalam bidang yang kita tekuni. Teruslah belajar hingga menjadi ahli,” menjadi salah satu pesan penting dalam pembekalan tersebut.

Selain kapasitas intelektual, ia menekankan pentingnya menjaga kekuatan fisik, memperkuat ibadah melalui pelaksanaan kewajiban dan amalan sunah, serta memperluas hubungan sosial.

Ketiga aspek tersebut dipandang saling berkaitan dalam membentuk pribadi yang tangguh: fisik yang mendukung produktivitas, spiritualitas yang menjaga orientasi hidup, serta jaringan sosial yang membuka ruang kolaborasi dan peluang usaha.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan diri, tidak mudah menyerah, serta tidak merasa rendah diri ketika menghadapi tantangan.

Pesan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 139:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.”

Ayat tersebut memberikan dorongan agar seorang Muslim memiliki mental yang kuat, tidak mudah terpuruk, dan tetap berpegang pada nilai keimanan ketika menghadapi berbagai kesulitan.

Tawakal Setelah Berikhtiar, Bukan Berhenti Sebelum Berusaha

Menutup pemaparannya, Muhammad Fadhli mengingatkan peserta agar memiliki cita-cita besar, tetapi tetap menjaga kerendahan hati dan ketulusan dalam menjalani proses.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Artinya: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159).

Menurutnya, tawakal harus hadir setelah seseorang memantapkan niat, menyusun langkah, dan melakukan ikhtiar secara sungguh-sungguh. Manusia boleh memiliki rencana dan cita-cita, tetapi tetap harus menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah SWT.

Ia juga mengajak peserta agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Setiap peluang perlu dipertimbangkan dan direspons secara bijaksana, sebab keberanian memulai merupakan salah satu karakter penting seorang entrepreneur.

Pada saat yang sama, seorang Muslim harus tetap menjaga kejujuran, keikhlasan, dan tanggung jawab dalam setiap aktivitas ekonominya. Keberhasilan bukan semata-mata diukur dari banyaknya harta yang diperoleh, tetapi juga dari cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya untuk kebaikan.

Melalui pembekalan ini, ADI Aqabah Bukittinggi diharapkan semakin memperkuat wawasan kewirausahaan para dosen, sehingga mereka tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu dan dakwah, tetapi juga memiliki pola pikir produktif, mandiri, serta mampu menangkap peluang ekonomi secara profesional.

Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa membangun kemandirian ekonomi tidak harus menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama. Dengan ilmu, kerja keras, integritas, jejaring yang kuat, dan tawakal kepada Allah SWT, aktivitas kewirausahaan dapat menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan kehidupan Muslim yang lebih sejahtera dan bermanfaat bagi masyarakat.

*AH

You cannot copy content of this page