Irwan Baharuddin: Suara Lantang dari Sang Idealis Angkatan ’82 yang Tak Pernah Padam

Irwan Baharuddin: Suara Lantang dari Sang Idealis Angkatan ’82 yang Tak Pernah Padam

Irwan Baharuddin: Suara Lantang dari Sang Idealis Angkatan ’82 yang Tak Pernah Padam

Bukittinggi,Infosumbar24.com | Arus kesibukan jelang Sekolah Radjo Kweek School sekarang SMA Negeri 2 Birugo Bukittinggi “Baralek Gadang” tanggal 29-30 Mei ini semakin terasa.
terselip sosok seorang Irwan baharuddin angkatan 1982, sosok penuh pengalaman yang era 80an menempah ilmu di German, ditengah dinamika ekonomi nasional yang kerap bergerak di ruang abu-abu antara kebijakan dan kepentingan.

Nama Irwan Baharuddin mencuat sebagai sosok yang tak mudah dibungkam di lini kepentingan dan kekuasaan.
Alumni angkatan 1982 ini bukan sekadar aktivis biasa, ia menjelma menjadi pengamat ekonomi lokal yang vokal, berani, dan kerap menyentil titik paling sensitif dari kebijakan publik.
Irwan dikenal dengan gaya bicaranya yang lugas, tanpa tedeng aling-aling.
Dalam berbagai forum diskusi hingga ruang-ruang publik, ia konsisten mengkritisi arah pembangunan yang dinilainya sering melenceng dari kepentingan masyarakat luas.
Baginya, angka-angka pertumbuhan ekonomi tak cukup jika tak diiringi dengan keadilan distribusi.

“Ekonomi daerah itu bukan sekadar laporan statistik tapi soal perut rakyat, soal akses, soal keadilan,” ujarnya Irwan dalam satu kesempatan dimana ini adalah sebuah pernyataan yang menggambarkan garis tegas sikapnya.
Sebagai aktivis, Irwan tumbuh dari kultur gerakan mahasiswa era 80-an yang keras dan penuh idealisme. Warisan itulah yang masih ia bawa hingga kini. keberanian untuk bersuara, bahkan ketika arus berlawanan Irwan tak segan mengkritik proyek-proyek pemerintah yang dianggap minim transparansi atau berpotensi merugikan daerah.

Namun ketajamannya bukan tanpa dasar. Irwan dikenal rajin menguliti data, membandingkan kebijakan lintas daerah, hingga menyoroti celah regulasi yang kerap luput dari perhatian publik.
Kombinasi antara idealisme dan analisis ini membuat suaranya sulit diabaikan, bahkan oleh para pengambil kebijakan.
Di mata sebagian pihak, Irwan mungkin dianggap terlalu keras tapi bagi kelompok masyarakat sipil, ia adalah representasi dari kontrol sosial yang mulai langka, independen, konsisten, dan tak tersandera kepentingan.

Dalam lanskap lokal yang kerap didominasi kompromi, Irwan Baharuddin berdiri sebagai pengingat bahwa kritik bukanlah ancaman melainkan bagian penting dari demokrasi yang sehat. Sosoknya membuktikan, dari angkatan ’82, suara perubahan itu masih ada dan masih menggema.(imanchaniago)