1 Bukittinggi: Dari Literasi Menuju Kepedulian Global
Bukittinggi,Infosumbar24.com | Di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat dan tanpa batas, literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi telah menjadi fondasi penting untuk membangun cara berpikir kritis, empati sosial, dan kesadaran global.
Semangat itulah yang dibawa dalam kegiatan IMLF Goes To School yang digelar di MAN 1 Kota Bukittinggi, sebagai bagian dari rangkaian International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 dalam menyambut 100 Tahun Jam Gadang.

Kegiatan tersebut menghadirkan Chit Ko Ko Oo, aktivis kemanusiaan asal Myanmar yang dikenal aktif dalam berbagai gerakan sosial dan pendidikan. Kehadirannya tidak hanya membawa pengalaman internasional ke ruang kelas, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang arti kemanusiaan di tengah dunia yang terus menghadapi berbagai tantangan.
Di hadapan ratusan siswa dan tenaga pendidik, Chit Ko Ko Oo mengajak generasi muda untuk melihat literasi sebagai kekuatan yang mampu mengubah kehidupan. Menurutnya, membaca membuka jendela pengetahuan, sementara pemahaman yang lahir dari literasi akan melahirkan kepedulian terhadap sesama.
“Anak-anak muda harus menjadi warga dunia yang peduli. Literasi bukan hanya tentang mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami dan bertindak untuk kebaikan bersama,” pesannya.
Tak hanya berbicara tentang pentingnya budaya baca, ia juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental sebagai modal utama generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan. Baginya, kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kesehatan dan karakter yang kuat.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para siswa tidak hanya mendapatkan wawasan baru tentang isu-isu global dan kemanusiaan, tetapi juga memperoleh inspirasi dari perjalanan hidup seorang aktivis yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat luas.
Kepala MAN 1 Kota Bukittinggi, Zulfadhli Alfa, menyebut kegiatan ini sebagai momentum penting dalam memperluas cakrawala berpikir peserta didik. Menurutnya, pendidikan di era modern tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus mampu membentuk generasi yang memiliki sensitivitas sosial dan wawasan internasional.
“IMLF Goes To School memberikan ruang bagi siswa untuk belajar langsung dari pengalaman dunia nyata.
Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi proses pembelajaran yang memperkaya cara pandang mereka terhadap kehidupan dan masa depan,” ujarnya.
Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan bahwa Bukittinggi tidak hanya merawat warisan sejarah melalui peringatan 100 Tahun Jam Gadang, tetapi juga menyiapkan generasi penerus yang mampu menjawab tantangan zaman melalui pendidikan dan literasi.
Di tengah derasnya informasi digital kehadiran program seperti IMLF menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mampu berpikir kritis, berempati dan berkontribusi bagi dunia.
Dari sebuah ruang belajar di MAN 1 Bukittinggi, pesan itu menggema kuat dimana literasi bukan sekadar membaca buku, melainkan membaca kehidupan.
Dan dari sanalah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli terhadap kemanusiaan.
(imanchaniago)







