Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda, Doa Wartawan Bukittinggi Mengalir di Bawah Jam Gadang

Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda, Doa Wartawan Bukittinggi Mengalir di Bawah Jam Gadang

Bukittinggi,Infosumbar24.com | Di tengah gemerlap kawasan Jam Gadang yang dipadati wisatawan, ratusan pasang mata menyaksikan sebuah pesan kemanusiaan yang begitu sederhana, namun penuh makna.
Minggu (13/9) sore, wartawan Kota Bukittinggi berkumpul. Bukan untuk mengejar berita, bukan pula untuk meliput sebuah peristiwa tetapi untuk mengirimkan doa dan harapan bagi lima jurnalis yang dilaporkan hilang jejak di perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas jurnalistik dalam peliputan bencana erupsi Gunung Anak Krakatau.

Di bawah Jam Gadang, solidaritas itu mengalir dalam suasana penuh keprihatinan.
Para wartawan lintas media menyatukan hati, berharap kelima rekan seprofesi tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Aksi spontan itu dihadiri Ketua PWI Bukittinggi Asrial Gindo, Kepala Stasiun RRI Bukittinggi Abdul Ghafar, Ketua Bukittinggi Press Club (BPC) Al Fatah, serta sejumlah insan pers lainnya.

Kepala Stasiun RRI Bukittinggi, Abdul Ghafar, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan dan persaudaraan sesama insan pers.
Menurutnya, setiap berita yang sampai kepada masyarakat tidak lahir begitu saja.
Ada perjuangan, keberanian dan tanggung jawab jurnalis yang berada langsung di lapangan.
“Wartawan menyadari bahwa di balik setiap informasi yang sampai kepada masyarakat, terdapat perjuangan dan tanggung jawab besar para jurnalis yang bekerja langsung di lapangan, termasuk ketika harus berada di wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi,” ujarnya.

Abdul Ghafar menegaskan, wartawan memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, terlebih ketika bencana terjadi.
Namun, di tengah tuntutan menghadirkan informasi secara cepat dan akurat, keselamatan jurnalis tetap menjadi hal yang sangat utama.
Sebab, sebuah berita memang penting tetapi keselamatan manusia jauh lebih berharga.

Ketua PWI Bukittinggi, Asrial Gindo, menyampaikan keprihatinan sekaligus harapan agar proses pencarian terhadap kelima wartawan tersebut terus dilakukan secara maksimal.
Ia mengatakan, profesi wartawan membutuhkan keberanian dan ketekunan dan tidak jarang jurnalis harus berada di lokasi yang penuh ketidakpastian untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar.
“Solidaritas ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap sesama wartawan dan kita sama-sama berdoa agar kelima rekan kita segera ditemukan dan diberikan keselamatan,” ujar Asrial.
Baginya, doa yang dipanjatkan dari Bukittinggi merupakan pesan bahwa mereka yang sedang berada dalam perjuangan tidak pernah benar-benar sendirian.

Ketua BPC Bukittinggi, Al Fatah, mengatakan aksi tersebut lahir dari rasa persaudaraan sesama wartawan.
Menurutnya, perbedaan media dan organisasi tidak menghapus ikatan kemanusiaan di antara para jurnalis.
“Ketika seorang wartawan turun ke lapangan, ada tanggung jawab besar yang dibawanya dan mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat, tetapi keselamatan tetap menjadi hal yang utama,” katanya.

Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa peliputan kebencanaan membutuhkan kesiapsiagaan, kehati-hatian dan perhatian serius terhadap keselamatan jurnalis.

Sore itu, Jam Gadang bukan hanya menjadi ikon wisata Kota Bukittinggi.
Di tempat yang menjadi simbol kota tersebut, para wartawan menitipkan sebuah harapan sederhana kepada Tuhan.
Semoga lima jurnalis yang sedang dalam pencarian segera ditemukan. Semoga mereka selamat. Semoga keluarga yang menunggu diberi kekuatan dan semoga seluruh tim pencarian dimudahkan dalam menemukan mereka.

Dari Bukittinggi, doa itu mengalir menembus jarak.
Hari ini mereka yang meliput berita dan hari ini pula mereka menjadi berita yang ditunggu kepulangannya.

Dan bagi insan pers, satu harapan tetap sama:
“Kembali dengan selamat, kawan. Kami menunggu.”
(imanchaniago)

You cannot copy content of this page