Sekolah Radjo Baralek Gadang ke-170: Martias Wanto Dt Maruhun Angkatan 85, Pamong yang Menjaga Nurani di Dalam Kekuasaan
Bukittinggi,Infosumbar24.com | Disela momentum Sekolah Radjo Baralek Gadang ke-170 SMA Negeri 2 Bukittinggi (SMA Birugo), salah satu figur mulai mengapung menemukan bentuknya.
Satu persatu jelang acara puncak Sekolah Radjo Baralek Gadang ke-170 tanggal 29-30 Mei nanti beberapa nama bermunculan.
Dr (HC) Martias Wanto, MM Dt Maruhun, pamong senior angkatan 85 yang hidupnya dapat dibaca bukan hanya sebagai rangkaian jabatan, melainkan sebagai teks panjang tentang pengabdian.
Beliau lahir di Lubuk Basung 1 Maret 1966, sebuah awal yang sederhana sebagaimana banyak kisah besar dimulai. Dari SD 1 Pekan Jumat di Tilatang Kamang (1979), SMP 1 Pakan Kamih (1982), hingga SMA Birugo (1985). Jejak pendidikannya adalah lintasan yang tampak biasa namun justru di sanalah fondasi dibangun dengan disiplin, kesadaran kolektif dan etos belajar yang tak tergesa-gesa mengejar hasil, tetapi setia pada proses.
Ketika Tokoh adat bergelar Datuk Maruhun ini melanjutkan ke APDN dan lulus pada 1989, pilihan itu bukan sekadar profesi melainkan panggilan eksistensial.
Bagi Datuak (panggilan) menjadi pamong merupakan pelayan yang bekerja dalam struktur, namun dituntut menjaga nurani di dalamnya.
Kariernya dimulai dari bawah, sebagai Kasubsi Dispenda Agam hingga 1990.
Lalu bergerak menjadi Sekretaris Desa Bawan (1990–1991), hingga Sekcam Palembayan (1995–1997). Jika dibaca secara administratif, ini adalah promosi bertahap. Namun secara filosofis, ini adalah perjalanan dari ruang kecil ke ruang yang lebih luas, dari mengenal manusia sebagai individu menuju memahami masyarakat sebagai sistem.
Ketika ia dipercaya menjadi Camat di Lubuk Basung, Palembayan, dan Ampek Angkek hingga 2007, perannya tidak lagi sekadar menjalankan fungsi tetapi merawat keseimbangan antara aturan dan kebijaksanaan, antara kekuasaan dan pelayanan.
“Dalam tradisi Minangkabau, pamong bukan hanya pengelola, tetapi juga penjaga harmoni”, yang selalu diungkap beliau dalam setiap kesempatan.
Promosi berikutnya adalah Kabag Organisasi Setdakab Agam (2008), Kepala Badan Kesbangpol (2008–2011), hingga Kalaksa BPBD.
Hal ini menunjukkan satu hal bahwa negara mempercayakan kepadanya ruang-ruang krusial.
Namun puncak bukanlah jabatan melainkan tanggung jawab, itu terlihat saat ia menjadi Asisten Pemerintahan dan Kesra (2012–2016), hingga akhirnya Sekretaris Daerah Kabupaten Agam sejak 2016.
Di titik ini, ia berada di pusat kendali birokrasi tempat di mana keputusan bukan hanya berdampak administratif, tetapi juga menentukan arah hidup banyak orang.
Penghargaan yang ia terima sebagai Camat Teladan Sumbar 2004, Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun 2016, dan berbagai predikat lainnya adalah pengakuan formal. Namun pengakuan yang lebih dalam justru datang dari konsistensi sampai bertahan dalam etika kerja yang tidak selalu populer, tetapi selalu diperlukan.
Gelar kehormatan Doctor (Honoris Causa) dari Universal Institute for Professional Management UIPM Malaysia dalam bidang Human Resource Management, menempatkannya dalam horizon yang lebih luas.
Menunjukkan bahwa ia bukan lagi sekadar birokrat lokal, tetapi representasi bahwa pengalaman empiris dalam mengelola manusia dalam kompleksitas sosial dan budaya dan dapat berbicara di tingkat global.
Dalam konteks Baralek Gadang ke-170 semua capaian itu menemukan makna yang lebih sunyi. Martias kembali bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai murid lama yang pulang membawa waktu, pengalaman, dan kesadaran bahwa segala pencapaian bermula dari ruang kelas yang sederhana di Birugo.
Di sinilah filsafat Baralek Gadang bekerja sebab ia bukan hanya perayaan usia, tetapi perenungan tentang asal-usul.
Dan sosok Dt Maruhun mengingatkan, bahwa menjadi besar bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa dalam kita tetap terhubung dengan akar.
SMA Birugo, dalam usia ke-170, tidak hanya merayakan sejarahnya tetapi merayakan manusia-manusia yang menjadikan sejarah itu hidup.
Pada salah satu halamannya nama Martias Wanto tertulis bukan dengan tinta jabatan, tetapi dengan jejak pengabdian yang panjang yang diam, konsisten dan bermakna.
(imanchaniago)







