Ketua MUI Bukittinggi Dorong Surau Jadi Pusat Pembinaan Generasi Muda
Bukittinggi — Infosumbar24.com | Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bukittinggi, Buya H. Dr. Aidil Alfin, M.Ag, menghadiri Forum Group Discussion (FGD) Penyusunan Modul Surau Gemilang, salah satu program unggulan Pemerintah Kota Bukittinggi, yang difokuskan pada penguatan peran masjid dalam pembentukan karakter generasi muda.
Dalam sesi diskusi, Buya Aidil Alfin menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif Surau Gemilang. Atas nama pimpinan MUI Bukittinggi, ia menilai program ini sebagai langkah strategis dalam mengembalikan fungsi surau dan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter, intelektual, dan spiritual generasi muda.
“Pembentukan karakter generasi muda berbasis masjid adalah kebutuhan mendesak. Masjid harus kembali menjadi ruang yang ramah, relevan, dan menarik bagi anak-anak muda,” ujar Buya Aidil.
Ia mengingatkan bahwa sejak tahun 2012, Dinas Pendidikan bekerjasama dengan MUI Kota Bukittinggi telah menjalankan program Pesantren Ramadan setiap bulan suci, salah satu tujuannya adalah menghidupkan peran remaja masjid. Namun, menurutnya, tujuan tersebut belum sepenuhnya tercapai dan masih perlu ditingkatkan melalui pendekatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan.

Dalam FGD tersebut, Buya Aidil mengusulkan adanya kolaborasi lintas SKPD dengan pengurus masjid, termasuk kemungkinan integrasi kehadiran siswa melalui sistem absensi kegiatan berbasis masjid. Selain itu, ia juga mengusulkan dibentuknya satu masjid percontohan yang kepengurusannya didominasi oleh anak-anak muda.
“Masjid dengan pengurus muda akan menjadi magnet tersendiri bagi generasi seusia mereka. Ini penting agar masjid mampu bersaing dengan pengaruh cafe dan tempat nongkrong yang saat ini lebih diminati anak muda,” tegasnya.
Tak hanya itu, Buya Aidil juga menekankan pentingnya pembaruan materi dakwah. Menurutnya, materi dalam program Surau Gemilang tidak cukup jika hanya berkutat pada tema-tema klasik seperti kematian, surga, dan neraka.
“Materi harus disesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak muda, tentu tetap dalam koridor syariat. Misalnya pengenalan coding, desain grafis, hingga pelatihan konten kreator yang bernilai dakwah,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, juga disampaikan usulan agar masjid memfasilitasi bimbingan belajar berbasis masjid. Hal ini dinilai penting mengingat tidak semua wali murid memiliki kemampuan ekonomi untuk menyekolahkan anaknya di lembaga bimbingan belajar berbayar.
Menutup paparannya, Buya Aidil Alfin mengungkapkan rencana strategis MUI Bukittinggi pada tahun 2026, yakni meluncurkan program “Dakwah dari Cafe ke Cafe”. Program ini akan melibatkan kerja sama dengan pemilik cafe serta menghadirkan dai dan daiyah yang memiliki pendekatan, gaya komunikasi, dan fashion yang sesuai dengan dunia anak muda.
“Dakwah harus hadir di ruang-ruang yang digemari anak muda. Kita tidak boleh menunggu mereka datang ke masjid, tetapi masjid dan dakwah juga harus mendatangi mereka,” pungkasnya.
FGD Penyusunan Modul Surau Gemilang ini diharapkan mampu melahirkan konsep program yang aplikatif, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, sehingga masjid benar-benar menjadi pusat pembinaan generasi muda Bukittinggi yang berakhlak, berdaya saing, dan berkarakter Islami. (Ahmad Hamidi-Sekretaris Komisi DIK MUI Kota Bukittinggi).







