Nedi ST Batuah dan Pertarungan Melawan Lupa: Ketika Seorang Perantau Memanggul Martabat Sejarah Bangsa
Agam,Infosumbar24.com| Sejarah sering kali tidak hilang karena tidak pernah terjadi tetapi sejarah hilang karena tidak lagi diperjuangkan.
Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan modern, ketika banyak orang sibuk mengejar masa depan, seorang perantau asal Kubang Putiah memilih menoleh ke belakang.
Bukan untuk bernostalgia tetapi untuk menunaikan tanggung jawab moral kepada bangsa.
Sosok itu adalah Nedi ST Batuah, tokoh muda Pincuran Landai sekaligus Ketua Ikatan Keluarga Kubang Putiah (IKKB) Pekanbaru yang hingga hari ini tetap berdiri di garis depan memperjuangkan Mr. Assaat Datuak Mudo agar memperoleh gelar Pahlawan Nasional.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya sebuah usulan gelar namun bagi Nedi ST Batuah, ini adalah pertarungan melawan lupa.

Sejarah bangsa Indonesia pernah mencatat nama Mr. Assaat Dt Mudo sebagai tokoh penting yang menjaga marwah republik pada masa-masa paling sulit setelah kemerdekaan. Ketika bangsa ini menghadapi berbagai gejolak politik dan ancaman terhadap kedaulatannya, Mr. Assaat berdiri menjalankan amanah negara dengan penuh tanggung jawab.
Namun ironisnya, seiring berjalannya waktu, nama besar itu perlahan tenggelam dari ingatan publik.
Di sinilah kegelisahan Nedi bersama Ikatan Keluarga Banuhampu (IKB) Pekanbaru bermula.
“Jika bangsa ini lupa kepada orang-orang yang pernah menyelamatkan republik, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan sebagian dari jati diri kita sendiri,” ujar Nedi dalam wawancara dengan awak media Infosumbar24.com Sabtu (30/05/2026).
Ucapan itu mengingatkan pada pandangan sejarawan dunia Arnold J. Toynbee yang menyebut bahwa peradaban tidak runtuh karena serangan dari luar, melainkan karena kehilangan kesadaran terhadap nilai-nilai yang membesarkannya.
Pucuak pauah dilayangkan angin,
Jatuah ka laman dibao ari.
Jasanya pahlawan jangan dibiarin,
Karano di sanalah marwah negeri.
Perjuangan Nedi bukan perjuangan yang mudah karena tidak membawa kekuasaan, tidak pula memiliki kewenangan negara sebab yang ia miliki hanyalah keyakinan bahwa sejarah harus diperlakukan secara adil.
Bersama para perantau Banuhampu Agam di perantauan, akademisi, tokoh masyarakat dan keluarga besar Mr. Assaat, ia bergerak dari satu pintu ke pintu lainnya. Mengumpulkan dokumen, menelusuri arsip, menghimpun dukungan dan membangun kesadaran publik bahwa bangsa ini memiliki hutang sejarah yang belum lunas.

Langkah demi langkah yang ditempuh pria kelahiran 1977 bersama Ikatan Keluarga Banuhampu (IKB) bukan hanya soal administrasi pengusulan gelar tetapi lebih dari itu, mereka sedang membangun gerakan moral agar generasi muda kembali mengenal tokoh-tokoh yang telah meletakkan fondasi republik.
Sejarawan Amerika David McCullough pernah mengatakan, “Sejarah adalah siapa diri kita dan alasan mengapa kita menjadi seperti sekarang.” Kalimat itu seolah menjelaskan mengapa perjuangan Nedi dan jajarannya tidak pernah surut.
Karena baginya, memperjuangkan Mr. Assaat bukan sekadar membela masa lalu, tetapi menjaga masa depan bangsa.
“Ka Bukittinggi mancaliak Jam Gadang,
Singgah sabanta di Kubang Putiah.
Kalau sejarah lah mulai hilang,
Apa nan ka diceritokan ka anak cucu kito nanti dek urang banyak?” Jelas beliau !.
Kini perjuangan itu mulai menunjukkan titik terang dimana dukungan dari keluarga besar Mr. Assaat mengalir.
Para akademisi dan sejarawan ikut memberikan perhatian dan masyarakat semakin sadar bahwa ada seorang tokoh besar republik yang jasanya perlu mendapatkan tempat terhormat dalam sejarah nasional.
Namun bagi Nedi ST Batuah perjuangan ini belum selesai.
Sebab baginya, penghargaan tertinggi bukanlah ketika sebuah nama tercantum dalam keputusan negara. Penghargaan tertinggi adalah ketika bangsa ini kembali mengenang dan menghormati mereka yang telah berkorban demi republik.
Bintang banyak di langik malam,
Cahayonyo tampak dari jauah.
Bangsa kuat bukan karano alam,
Tapi karano menghargai pahlawan nan basusah payah.
Jika suatu hari nama Mr. Assaat resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, maka itu bukan hanya kemenangan keluarga besar Mr. Assaat atau masyarakat Kubang Putiah tetapi itu adalah kemenangan sejarah Indonesia.
Dan ketika lembaran itu ditulis kelak, sejarah juga akan mencatat bahwa ada seorang perantau bernama Nedi ST Batuah yang menolak membiarkan jasa seorang putra bangsa terkubur oleh waktu.
Ia memilih berjalan melawan arus lupa, memanggul amanah sejarah dan mengingatkan republik bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya mampu melahirkan pahlawan, melainkan bangsa yang tahu cara menghormati mereka.
Karena sesungguhnya, negara yang melupakan pelaku sejarahnya sedang berjalan menuju kehilangan identitasnya dan sebaliknya, negara yang menghormati para pendirinya sedang memperkuat fondasi masa depannya.
Perjuangan Nedi ST Batuah bersama rekan-rekan mengajarkan satu hal yang sederhana namun mendalam bahwa, mencintai bangsa tidak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata atau menduduki jabatan tinggi. Terkadang, cinta kepada bangsa diwujudkan dengan memastikan bahwa sejarah tetap menemukan keadilannya.
(imanchaniago)







