2.000 Pelari Meriahkan Satu Abad Jam Gadang, Bukittinggi Tegaskan Diri sebagai Kota Sejarah

2.000 Pelari Meriahkan Satu Abad Jam Gadang, Bukittinggi Tegaskan Diri sebagai Kota Sejarah

2.000 Pelari Meriahkan Satu Abad Jam Gadang, Bukittinggi Tegaskan Diri sebagai Kota Sejarah

Bukittinggi,Infosumbar24.com |Ribuan langkah kaki berpadu dengan denyut sejarah di jantung Kota Bukittinggi, Minggu (7/6/2026). Sekitar 2.000 pelari dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara memadati kawasan Jam Gadang dalam gelaran International Jam Gadang Fun Run 2026, sebuah agenda internasional yang menjadi bagian dari perayaan 100 Tahun Jam Gadang.
Sejak pagi hari, kawasan pusat kota telah dipenuhi peserta yang bersiap di garis start depan Istana Bung Hatta. Dengan latar menara Jam Gadang yang berdiri megah selama satu abad, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang olahraga, tetapi juga perayaan identitas sejarah, budaya, dan kebanggaan masyarakat Sumatera Barat.
Wakil Ketua Umum IKA UNAND, Imelda Sari, mengatakan peringatan satu abad Jam Gadang merupakan momentum penting untuk memperkenalkan Bukittinggi kepada dunia sebagai kota bersejarah yang memiliki nilai peradaban tinggi.
“Jam Gadang Fun Run 2026 menjadi simbol kebanggaan bahwa Bukittinggi adalah kota bersejarah dan destinasi legendaris pariwisata Sumatera Barat bahkan Indonesia. Ini adalah kolaborasi besar antara IKA UNAND, Pemerintah Kota Bukittinggi, berbagai kementerian, serta InJourney,” ujarnya.
Perayaan ini sekaligus mengingatkan kembali perjalanan panjang Jam Gadang yang telah menjadi saksi berbagai fase sejarah bangsa. Menara ikonik tersebut mulai dibangun pada 1926 dan selesai pada 1927, sebelum diresmikan pada 25 Juli 1927 pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menjelaskan bahwa Jam Gadang merupakan warisan sejarah yang memiliki nilai simbolik tinggi bagi masyarakat Minangkabau dan Indonesia.
“Jam Gadang dibangun sebagai hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada Controleur Fort de Kock. Kini bangunan itu menjadi simbol kebanggaan masyarakat Bukittinggi sekaligus ikon Sumatera Barat yang dikenal dunia,” katanya.
Dengan tinggi sekitar 26 meter dan mesin jam buatan Jerman yang masih berfungsi hingga saat ini, Jam Gadang tetap menjadi salah satu landmark paling unik di Indonesia. Keistimewaannya terlihat pada angka Romawi “IIII” yang digunakan untuk angka empat, berbeda dari penulisan lazim “IV” yang digunakan sebagian besar menara jam dunia.
Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Jam Gadang merekam perubahan zaman. Atapnya pernah bergaya Eropa pada masa kolonial Belanda, berubah mengikuti arsitektur Jepang saat pendudukan Jepang, hingga akhirnya menggunakan gonjong Rumah Gadang setelah Indonesia merdeka sebagai simbol identitas Minangkabau.
Di kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan penting bangsa—mulai dari basis Pemerintah Darurat Republik Indonesia, ibu kota Sumatera Tengah, hingga ibu kota Provinsi Sumatera Barat—Jam Gadang terus berdiri sebagai penanda perjalanan sejarah Indonesia.
“Kota ini adalah kota sejarah. Kota yang pernah menjadi ibu kota RI saat PDRI, ibu kota Sumatera Tengah, dan ibu kota Sumatera Barat. Kini Bukittinggi berkembang sebagai kota pedestrian dan kota solusi,” ujar Ramlan.
Perayaan satu abad Jam Gadang juga mendapat perhatian internasional. Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, turut hadir menyaksikan kemeriahan kegiatan tersebut.
Menurut Ramlan, sang dubes berkali-kali mengungkapkan kekagumannya terhadap Kota Bukittinggi.
“‘Bukittinggi nice, very nice,’ itu yang berulang kali beliau sampaikan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP IKA Universitas Andalas>, Denny Abdi, menilai keberhasilan penyelenggaraan kegiatan internasional tersebut menjadi bukti kuat bahwa kolaborasi berbagai elemen masyarakat mampu menghasilkan agenda berskala global.
“Dalam waktu persiapan hanya sekitar satu setengah bulan, kita berhasil menghadirkan kegiatan internasional dengan 2.000 pelari. Ini bukan sekadar olahraga, tetapi simbol persahabatan, relasi, dan semangat kebersamaan,” ujarnya.
Di usia genap satu abad, Jam Gadang tidak hanya menjadi destinasi wisata. Ia telah menjelma menjadi monumen ingatan kolektif, saksi perubahan zaman, sekaligus mercusuar sejarah yang terus menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Melalui International Jam Gadang Fun Run 2026, Bukittinggi kembali mengirim pesan kepada Indonesia dan dunia: kota kecil di lereng Marapi ini bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tetapi juga ruang untuk memahami sejarah, merawat warisan, dan merayakan persatuan dalam keberagaman.
(imanchaniago)