Rama Gusriyanto Muncul di Muscab PHRI Bukittinggi: Pengusaha Manufaktur, Ritel hingga Hotel yang Digadang Rebut Kursi Ketua
Bukittinggi,Infosumbar24.com | Musyawarah Cabang (Muscab) Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bukittinggi periode 2026–2031 menghadirkan pertarungan dua figur dengan latar belakang berbeda.
Petahana H. Taufik Hidayat kembali maju mempertahankan kepemimpinan, sementara Dr. Rama Gusriyanto, MM, pengusaha yang kini berada di balik pengelolaan Monopoli Hotel Bukittinggi, tampil sebagai kandidat penantang.
Muscab digelar di Aula Balai Sidang Bung Hatta, Hotel Monopoli Bukittinggi, Kamis (17/9/2026).
Forum tersebut mengusung tema “Memperkuat Sinergi PHRI untuk Pariwisata Bukittinggi yang Berkualitas, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan.”
Pertarungan dua nama ini menjadi menarik karena Rama bukan figur yang hanya dikenal dari bisnis perhotelan.
Rekam jejaknya terbentang dari industri manufaktur kemasan, ritel hingga sektor hospitality.
Dalam profil profesionalnya, Rama tercatat sebagai President Director I FLEX GROUPS COMPANY, perusahaan yang bergerak di bidang solusi material dan mesin kemasan.
Profil tersebut juga mencatat pengalaman pendidikannya di Institut Teknologi Bandung dan gelar Magister Manajemen dari Universitas Pelita Harapan.
Di sektor ritel, Rama dikenal sebagai salah satu pendiri Minang Express, jaringan minimarket lokal yang dikembangkan dengan perhatian terhadap pemasaran produk UMKM.
Sejumlah pemberitaan sebelumnya mencatat Minang Express mulai dikembangkan sejak 2021.
Namun, kiprahnya yang kini paling dekat dengan panggung pariwisata Bukittinggi adalah sektor perhotelan.
Rama tercatat sebagai Presiden Direktur PT Kata Selaras Bersama, perusahaan yang mengelola Monopoli Hotel Bukittinggi.
Hotel tersebut resmi beroperasi pada 1 Oktober 2024 setelah sebelumnya dikenal sebagai Triple Tree Hotel.
PT Kata Selaras Bersama merupakan konsorsium yang terdiri dari PT Sanga Jiwa Group, PT I Flex Indonesia dan PT Trivia Mandiri Flexindo.
Dalam momentum pembukaan Monopoli Hotel, Rama menyampaikan harapan agar kehadiran hotel tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan pariwisata Sumatera Barat.
Ia juga menekankan potensi pengembangan ekosistem pariwisata di Bukittinggi dan Sumatera Barat.
Kini, pengalaman lintas sektor tersebut dibawa Rama ke arena organisasi industri pariwisata melalui Muscab PHRI Bukittinggi.
Ketua Steering Committee (SC) Muscab, Agus Sasimintarso, mengatakan terdapat dua kandidat yang maju dalam pemilihan Ketua BPC PHRI Bukittinggi periode 2026–2031, yakni H. Taufik Hidayat dan Rama Gusriyanto.
Menurut Agus, kedua kandidat akan menyampaikan visi dan misi sebelum proses pemilihan.
“Tentu suara pemilih akan terpecah dua setelah para kandidat menyampaikan visi dan misi mereka,” kata Agus.
Muscab diikuti sekitar 85 peserta dan undangan, termasuk utusan resmi dari 37 usaha hotel dan restoran anggota BPC PHRI Bukittinggi.
Ketua Organizing Committee (OC) Muscab, Desy Azulmi, menyebut keberadaan anggota PHRI tersebut tidak hanya menggambarkan jumlah pelaku usaha, tetapi juga berkaitan dengan investasi, lapangan pekerjaan dan aktivitas ekonomi yang menopang sektor pariwisata Kota Bukittinggi.
Di titik inilah pertarungan dua kandidat menjadi lebih dari sekadar pergantian ketua.
PHRI merupakan organisasi yang bersentuhan langsung dengan denyut industri hotel dan restoran—dua sektor yang memiliki kaitan erat dengan kunjungan wisatawan, tenaga kerja, investasi dan perputaran ekonomi daerah.
Tema Muscab sendiri secara jelas menempatkan sinergi, kualitas, daya saing dan keberlanjutan sebagai agenda organisasi lima tahun mendatang.
Rama datang dengan pengalaman panjang di dunia bisnis dan sejumlah sektor industri, sementara Taufik membawa pengalaman sebagai Ketua BPC PHRI Bukittinggi periode sebelumnya.
Keduanya kini berada dalam satu arena organisasi dengan satu agenda yang sama: menentukan arah BPC PHRI Bukittinggi untuk periode 2026–2031.
Muscab turut dihadiri Ketua DPD PHRI Sumatera Barat Rina Pangeran, jajaran pengurus BPC PHRI Bukittinggi, Staf Ahli Wali Kota Bukittinggi Robby Novaldi yang mewakili Wali Kota, Kapolres Bukittinggi Kombes Pol. Ruly Indra Wijayanto, Danramil 01 Bukittinggi Mayor Inf. Karyanto yang mewakili Dandim, serta sejumlah undangan lainnya.
Pada akhirnya, forum ini bukan hanya tentang siapa yang memperoleh mandat memimpin PHRI Bukittinggi.
Lebih jauh, anggota PHRI akan menentukan arah organisasi dalam menghadapi perubahan industri hospitality, persaingan destinasi wisata, kebutuhan penguatan promosi, kemitraan dengan pemerintah, hingga bagaimana sektor hotel dan restoran semakin terhubung dengan ekonomi masyarakat.
Dua nama kini berada di panggung Muscab.
Satu membawa pengalaman sebagai petahana, satu lainnya datang dengan lintasan bisnis dari manufaktur, ritel hingga perhotelan. Lima tahun ke depan, arah PHRI Bukittinggi akan ditentukan dari forum ini.
(imanchaniago)


















