KUA Guguk Panjang dan MUI Gelar Pelatihan Ketahanan Keluarga untuk Keluarga Milenial
Bukittinggi – Infosumbar24.com. Upaya memperkuat ketahanan keluarga terus dilakukan oleh berbagai lembaga keagamaan di Kota Bukittinggi. Salah satunya melalui Pelatihan Ketahanan Keluarga yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Guguk Panjang pada Sabtu, 6 Desember 2025, bertempat di Gedung MUI Kota Bukittinggi.
Kegiatan ini menghadirkan Kepala KUA Kecamatan Guguk Panjang, Yuridarsan, S.Ag., MH, sebagai narasumber utama. Dengan penyampaian yang lugas, komunikatif, dan kaya referensi, Yuridarsan membawakan materi bertema:
“Faktor-Faktor Penyebab Ketidakharmonisan dalam Rumah Tangga Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah.”
Keluarga sebagai Poros Utama Peradaban
Dalam pemaparannya, Yuridarsan menegaskan bahwa keluarga merupakan institusi terkecil namun paling strategis dalam membentuk karakter dan moral masyarakat. Menurutnya, stabilitas sosial dan spiritual masyarakat sangat ditentukan oleh keharmonisan rumah tangga.

“Ketidakharmonisan keluarga tidak hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga menyentuh perkembangan anak, kestabilan emosi, dan daya tahan sosial masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan ini dirancang untuk memberikan bekal kepada keluarga milenial dalam menghadapi dinamika zaman yang semakin kompleks.
Landasan Agama dan Regulasi sebagai Kompas Rumah Tangga
Dalam membangun pondasi keluarga, Yuridarsan mengutip QS. Ar-Rum ayat 21 yang menegaskan bahwa ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) merupakan tanda kebesaran Allah dan menjadi fondasi utama rumah tangga.
Ia juga menegaskan pentingnya berpegang pada regulasi nasional seperti UU No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang menegaskan kewajiban suami-istri untuk saling mencintai, menghormati, dan bekerja sama demi terwujudnya keluarga yang bahagia dan bertanggung jawab.
10 Faktor Pemicu Retaknya Rumah Tangga
Dalam sesi inti, Yuridarsan memaparkan sepuluh faktor utama yang kerap menjadi penyebab ketidakharmonisan keluarga, mulai dari komunikasi yang buruk, masalah ekonomi, ketidakmatangan emosional, campur tangan pihak ketiga, minimnya pemahaman agama, hilangnya quality time, hingga perselingkuhan digital, masalah seksualitas, ketimpangan peran gender, dan hilangnya rasa syukur serta empati.
Setiap faktor dijelaskan secara komprehensif disertai dalil, contoh kasus, dan solusi aplikatif sehingga mudah dipahami peserta.
Solusi: Membangun Kembali Pondasi Keluarga SAMARA
Yuridarsan menekankan tujuh strategi utama untuk memperkuat keharmonisan keluarga:
- Komunikasi yang sehat,
- Pengelolaan ekonomi yang bijak,
- Pembagian peran yang adil,
- Penguatan spiritualitas,
- Penciptaan quality time,
- Musyawarah dalam menghadapi masalah,
- Menjaga komitmen dan kepercayaan.
Menurutnya, konsep sakinah, mawaddah, rahmah tidak otomatis hadir, tetapi merupakan hasil dari kerja sama tulus antara suami dan istri dalam menjalankan peran masing-masing.
Antusias Peserta dan Harapan ke Depan
Pelatihan yang berlangsung interaktif ini mendapat respons positif dari peserta. Banyak yang merasa bahwa materi yang disampaikan relevan dengan tantangan keluarga di era digital, sekaligus memberikan pedoman praktis untuk diterapkan.
Menutup kegiatan, Yuridarsan menyampaikan harapan agar pelatihan ini dapat melahirkan keluarga-keluarga yang tangguh di Kecamatan Guguk Panjang.
“Jika keluarga kuat, masyarakat pun akan kuat. Semoga Allah memberkahi keluarga kita menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah,” tutupnya. *(A. Hamidi)*







