Mahasiswa Baru ADI Aqabah Bukittinggi Ikuti Jalan Santai, Jelajahi Situs Sejarah di Kota Bukittinggi

Mahasiswa Baru ADI Aqabah Bukittinggi Ikuti Jalan Santai, Jelajahi Situs Sejarah di Kota Bukittinggi 

Bukittinggi – Info Sumbar 24 | Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aqabah Bukittinggi mengawali perkuliahan mahasiswa baru tahun akademik 2025 dengan kegiatan Jalan Santai mengelilingi Kota Bukittinggi, Minggu (31/8). Kegiatan ini menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat antara pimpinan, dosen, dan mahasiswa baru yang datang dari berbagai daerah di Sumatera.

Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Yayasan Aqabah Bukittinggi, H. Masdiwar, S.Pd.I, Direktur, Wakil Direktur, serta jajaran dosen. Puluhan mahasiswa baru antusias mengikuti kegiatan yang sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan pengenalan lingkungan.

Wakil Direktur Bidang Akademik ADI Aqabah Bukittinggi, Dr (C) Syafrianto, M.Ag, menuturkan bahwa jalan santai ini bukan sekadar olahraga, melainkan juga upaya mengenalkan mahasiswa pada sejarah panjang Kota Bukittinggi yang lekat dengan nilai perjuangan bangsa.

“Mahasiswa baru ADI berasal dari berbagai provinsi, seperti Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, hingga Sumatera Barat. Untuk Sumbar sendiri ada yang berasal dari Mentawai, Solok, Pesisir Selatan, dan Pasaman Barat. Karena itu, penting bagi mereka mengenal budaya serta jejak sejarah di kota ini agar bisa beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan sekitar,” ujarnya kepada Info Sumbar 24.

Rute jalan santai melewati beberapa ikon bersejarah Bukittinggi, di antaranya Rumah Kelahiran Bung Hatta, Taman Maram, Rumah Perjuangan di Panorama, hingga berakhir di Jam Gadang sebagai simbol kebanggaan Kota Bukittinggi. Setiap titik yang dikunjungi memberikan pesan mendalam kepada mahasiswa tentang pentingnya memahami sejarah bangsa sebagai bekal untuk berdakwah di tengah masyarakat.

Ketua Yayasan Aqabah Bukittinggi, H. Masdiwar, S.Pd.I, mengapresiasi penuh kegiatan ini. Menurutnya, pengenalan sejarah dan lingkungan bukan hanya melatih fisik mahasiswa, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa seorang kader dakwah harus memahami realitas sosial dan medan perjuangan di lapangan.

“Dunia dakwah saat ini penuh tantangan. Seorang dai harus memiliki mental dan spiritual yang kuat, serta mampu membaca kondisi masyarakat. Dengan kegiatan ini, kita berharap terbentuk kader dakwah yang militan, kokoh, dan siap berjuang di tengah kompleksitas zaman,” tegasnya.

Usai kegiatan jalan santai, para pimpinan ADI Aqabah melanjutkan agenda intelektual dengan menghadiri Sekolah Riset dan Advokasi yang diselenggarakan di Hotel Monopoli, Bukittinggi. Acara ini terselenggara atas kerja sama dengan CELIOS (Center of Economic and Law Studies), sebuah lembaga riset yang fokus pada kajian ekonomi dan hukum di Indonesia.

Melalui rangkaian kegiatan ini, ADI Aqabah Bukittinggi ingin menegaskan komitmennya untuk melahirkan kader dakwah yang tidak hanya kuat secara spiritual dan emosional, tetapi juga kritis dalam membaca realitas sosial, ekonomi, dan hukum yang berkembang di masyarakat.

Dengan langkah awal yang penuh semangat ini, mahasiswa baru ADI Aqabah Bukittinggi diharapkan tumbuh menjadi generasi penerus dakwah yang memiliki visi luas, wawasan sejarah, serta keberanian menghadapi tantangan zaman.

*Ahmad Hamidi/ Iman Caniago