Ditengah Kritikan, Bukittinggi Tetap Bergerak: Saatnya Melihat Pembangunan dengan Hati dan Mata Terbuka

Ditengah Kritikan, Bukittinggi Tetap Bergerak: Saatnya Melihat Pembangunan dengan Hati dan Mata Terbuka

Bukittinggi,Infosumbar24.com| Pemerintahan memang tidak pernah sepi dari kritik, tetapi ada satu hal yang tidak boleh dikalahkan oleh riuhnya perdebatan.

Belum genap dua tahun kepemimpinan Wali Kota Bukittinggi H. Ramlan Nurmatias, S.H., Dt. Nan Basa, pembangunan dan penataan kota terus berjalan.
Ada program yang masih berproses dan ada pula hasil pembangunan yang mulai terlihat sehingga semuanya tentu layak diawasi dan dikritisi.
Tetapi masyarakat juga patut bertanya, apakah setiap kritik harus dipercaya tanpa melihat faktanya? Apakah setiap pembangunan harus dianggap keliru hanya karena masih ada kekurangan?.
Dan apakah kerja pemerintah harus dihapus begitu saja oleh narasi yang belum tentu menggambarkan keseluruhan keadaan sehingga pertanyaan-pertanyaan inilah yang menurut Ivan Haykel aktivis demokrasi, pemerhati kota sekaligus pelaku pariwisata dan owner Jogja Tour & Travel penting dikembalikan kepada publik.

Lulusan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan mantan aktivis demokrasi 1998 itu berpandangan bahwa demokrasi membutuhkan kritik, tetapi kritik yang sehat harus berdiri di atas fakta.
“Kita boleh berbeda pandangan terhadap pemerintah tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan kemampuan melihat fakta.
Yang sudah baik kita akui, yang kurang kita kritik dan yang salah harus diperbaiki.” demikian pandangan Ivan Haykel.

Ivan juga menekankan bahwa kita jangan Sampai menutup Mata terhadap perubahan hanya karena kritikan yang seyogyanya adalah suatu kepentingn.
Pembangunan kota seharusnya tidak dinilai hanya dari satu sisi sebab
Bukittinggi membutuhkan infrastruktur yang baik, kawasan yang tertata, lingkungan yang nyaman dan strategi pariwisata yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

Sebagai pelaku pariwisata, Ivan melihat perubahan wajah kota memiliki hubungan langsung dengan daya saing Bukittinggi sebagai destinasi wisata.
Jika wisatawan semakin nyaman, maka peluang ekonomi juga semakin terbuka bagi pedagang, UMKM, pelaku kuliner, hotel, penginapan, transportasi dan ekonomi kreatif.
“Jangan hanya bertanya apa yang belum selesai tetapi kita juga harus bertanya apa yang sudah dikerjakan dan apa manfaatnya bagi masyarakat.
Evaluasi tetap penting, tetapi jangan sampai evaluasi berubah menjadi penolakan terhadap setiap perubahan.” ujarnya.

Pemerintah Wajib Terbuka, Publik Wajib Objektif
Ivan menegaskan, kritik bukan musuh pembangunan.
Justru kritik diperlukan agar pemerintah tidak keluar dari koridor kepentingan masyarakat.
Namun pemerintah juga tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan opini. Begitu pula masyarakat perlu mendapatkan informasi yang utuh sebelum menarik kesimpulan.

Dalam persoalan anggaran, misalnya pengawasan memiliki mekanisme dan lembaga yang berwenang.
Jika ada dugaan pelanggaran, ruang pemeriksaan dan proses hukum harus digunakan.

Bukan vonis di ruang publik yang menjadi ukuran, melainkan fakta dan proses hukum yang berlaku.
Pada titik inilah masyarakat perlu semakin dewasa dalam melihat pembangunan.
Yang benar jangan ditolak hanya karena tidak suka dan yang salah jangan dibela hanya karena suka.
Bukittinggi membutuhkan kritik yang mencerdaskan, bukan sekadar kebisingan.
Pemerintah harus bekerja. Masyarakat harus mengawasi dan pers harus memberitakan secara berimbang.
Dan pada akhirnya, hasil pembangunan serta manfaatnya bagi masyarakatlah yang akan menjadi ukuran.

Bukittinggi bukan sekadar sebuah kota.
Ia adalah salah satu wajah utama Sumatera Barat.
Karena itu, setiap pembangunan yang dilakukan hari ini pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang pemerintahan saat ini, tetapi juga tentang warisan kota untuk generasi berikutnya.
Jangan hanya dengarkan suara yang paling keras tapi lihatlah fakta yang ada di depan mata.
Ingat Sumatera Barat, Ingat Kota Bukittinggi.
Menuju Bukittinggi Gemilang.
(imanchaniago)

You cannot copy content of this page