Pengabdian Tanpa Henti Peltu Adrian Deswin, Diantara Jalan Sunyi Para Pejuang Ikhlas
Bukittinggi, Infosumbar24com | Tidak semua pengabdian lahir dari nama, pangkat atau jabatan di mimbar yang besar. Ada yang tumbuh diam-diam dari hati yang ikhlas, lalu menjelma menjadi cahaya bagi banyak orang.
Di momentum Sikolah Radjo Baralek Gadang ke-170 tanggal 29–30 Mei 2026, nama Adrian Deswin Angkatan 96 SMA Birugo ini hadir bukan sekadar sebagai alumni atau prajurit negeri, tetapi Adrian hadir sebagai teladan tentang bagaimana hidup dijalani untuk memberi manfaat.
Lama berdinas di Batalyon Artileri Pertahanan Udara 6/ Baladika Akaca Yudha atau Yon Arhanud 6/Bay, Adrian sejak tahun 2019 balik kampung halaman di Kodim 0304/ Agam dengan pangkat Pembantu Letnan Satu.
Adrian Deswin memahami bahwa seragam TNI bukan hanya lambang ketegasan tetapi amanah untuk melindungi dan melayani, sebab bagi Adrian pengabdiannya sebagai anggota TNI pada hakikatnya tidak harus di medan kedinasan.
Di Kodim 0304/ Agam Adrian dikenal sebagai pengurus Masjid Al Hanif, sebuah tempat yang tidak hanya dipenuhi suara azan tetapi juga dipenuhi langkah-langkah sunyi pengabdian.
Lulusan Secaba reguler Kodam Siliwangi 1998 ini diluar tugas sebagai TNI disibukkan dengan mengurus masjid, sekolah tahfidz, memperhatikan anak-anak yatim piatu, mendampingi para mustahik hingga mencarikan jalan agar mereka yang lemah tetap punya harapan hidup.
Bagi Ayah dua anak gadis ini, agama bukan sekadar nasihat di lisan tetapi kasih sayang yang diwujudkan dalam tindakan.
Seperti pesan mulia dalam hadis Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Kalimat itu seakan hidup dalam keseharian dirinya.
Di saat banyak orang sibuk menghitung pangkat dan keuntungan dunia, Adrian justru sibuk memikirkan biaya sekolah anak-anak yang kesulitan belajar.
Tidak ada kemewahan yang ia pamerkan tidak ada panggung yang ia kejar apalagi pangkat namun doa-doa anak yatim, lantunan hafalan para santri, dan senyum para mustahik menjadi saksi bahwa hidup ini harus dipenuhi keberkahan.
Adrian bahkan memiliki anak angkat yang dibantunya agar tetap bisa mengenyam pendidikan.
Tidak ada kemewahan yang ia pamerkan, tidak ada panggung yang ia kejar.
Namun doa-doa anak yatim, lantunan hafalan para santri dan senyum para mustahik menjadi saksi bahwa hidupnya dipenuhi keberkahan.
Disini membuktikan bahwa seorang prajurit bisa menjadi penjaga negeri sekaligus penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah zaman yang sering memuja popularitas, Adrian Deswin memilih jalan ketulusan.
Baginya jalan yang mungkin sunyi, tetapi tinggi nilainya di hadapan manusia dan InsyaAllah di hadapan Allah SWT.
Baralek Gadang ke-170 bukan hanya perayaan usia sekolah tetapi juga menjadi panggung lahirnya cerita-cerita pengabdian yang menghidupkan hati.
Dan di antara cerita itu nama Adrian Deswin hadir seperti pelita kecil yang tidak menyilaukan tetapi menerangi.
Editor: imanchaniago







